Saya telah hampir setengah tahun tidak berkumpul dengan teman-teman penulis muda Solo termasuk dengan Abed, seorang teman yang "aku" cocok dengan "diri"nya. Kau tahu, tiba-tiba ketika melihat blog ini setelah hampir setengah tahun tak melihatnya ada kangen yang membuncah. Tapi kami bukan homo kawan, kami hanya romantis tentu pada istri kami masing-masing.
Abed meluncur seperti biasa, selalu ajeg. Cerpennya kembali dimuat Koran Sindo yang banyak penulis (termasuk Dwicipta, penulis bersahaja itu) menyatakan bahwa sulit menembus Sindo untuk kedua kalinya. Dan Abed mampu melakukannya, Gile Je...
Aku sendiri baru sekali, dan entah kapan bisa melakukannya lagi.
Aku rasa dari segi tutur, Abed lebih mengalir dari sebelumnya, di beberapa titik menderas, jadi enak dibaca. Itu gayanya. Cerita Kidung Liturgi menekankan pada narasi dan seolah sengaja tanpa konflik, hanya sedikit muncul pada waktu muncul berita tentang kondisi Iskak. Konflik yang pelan, menanjak, menguat, memuncak,tak kutemui pada cerita Abed? Cerita ini baik pada tataran narasi, pembayangannya bagus tapi tak menegangkan, tak menyisakan pertanyaan bagi saya. Selesai ya sudah. Kesan, sedikit, tapi tak mengendap. Namun lepas dari itu, selama membaca cukup enak untuk dinikmati.
cerpen yang lain, selalu ada yang khas pada diri Abed, nama-nama tokoh yang bikin keki, lucu di hati menjadi kekuatan utamanya selain alur yang lancar. Abed tak pelak, tinggal mendetilkan deskriptif lebih total lagi, "mematungkan" pembaca dengan pertanyaan melintas, dan menjadikan cerpennya seperti donat: bulat, utuh padu, melingkar dan saling berpaut-bertemu jadi tak ada satu katapun yang sia-sia, tiap kata adalah pilihan paling pas dan ringkas.
Han Gagas
Rabu, 21 Januari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar