Senin, 30 Juni 2008

Membaca karya anggota Komunitas Sastra "Aryobegal"

Cerpen-cerpen karya Abednego Afriadi sangat khas nuansa "Jawanya" dalam penggunaan nama, misalnya, sangat jawa: Sudrun contohnya. Alur yang dipakai konvensional kecuali dalam tarian syafaat. Ia sangat sufi, mistik, terkesan surealis. Abed nampak terpengaruh Danarto, dalam Berhala atau Godlob jelas pengungkapan hal yang di atas "nyata" itu tertuang. Mungkin yang kurang adalah menerabaskan sekalian batas atas real itu. Jadi seperti kecubung pengasihan, labyrint, armageddon, atau bekakrakkan dan rintrik. Nantinya, menurut saya Abed berpotensi besar -lambat-laun- menjadi Danarto baru dengan sedikit-sedikit Romo Mangun atau Kuntowijoyo. Corak ini juga nampak pada karya-karya Han Gagas, tapi kadarnya berbeda, ia lebih banyak dicampuri Kuntowijoyo dari pada Danarto. Tersiar kabar ia memang baru menjajaki imajinasi Danarto dan Budi Darma -yang memiliki kemiripan- dan lambat-laun saya yakin jika ia terus berproses Danarto dan Kuntowijoyo akan seimbang dalam karya-karyanya nanti.

Dwi Susanto,
dosen sastra indonesia UNS Solo

Tidak ada komentar: