Senin, 30 Juni 2008
Membaca karya anggota Komunitas Sastra "Aryobegal"
Dwi Susanto,
dosen sastra indonesia UNS Solo
... tentang Han Gagas
Karya cerpennya ndilalah dimuat Koran Sindo, Majalah Gong, Solopos, antologi cerpenis terpilih Joglo (Taman Budaya Jawa Tengah, 2007), antologi Cinta Pertama, Pawonsastra, Ceritanet, dan lain-lain. Th 2007 nate juara 2 lomba cerpen Komunitas Senja, Fak. Sastra, Universitas Andalas Padang. Th 2008 karyanya nyemplung 10 terbaik sayembara cerpen sak-indonesia UNS Solo. Buku kumpulan cerpennya bertajuk “Jejak Sunyi” (Mediatama; 2008) diterbitkan dalam rangka proyek pemerintah untuk Taman Bacaan Masyarakat. Sesekali menulis cerita anak terutama jika ada pesanan atau pas keseleo ingatan. Cernaknya nate dimuat Solopos, yang lainnya segera terbit dalam beberapa buku oleh Penerbit Sahabat. Juga sesekali ngetik artikel nganggo jeneng Rudy Hantoro –sesuai KTP- dan sedikit diantaranya pernah dimuat Suara Merdeka, Bernas, dan Buku Mcdonaldisasi Pendidikan Tinggi (Penerbit Kanisius, 2002). Selain menulis, sehari-hari bekerja sebagai kompilator data untuk PBB.
Kisah Kancil dan Monyet
cernak: Han gagas
Musim kemarau teramat panjang hingga mendatangkan musibah kelaparan di mana-mana. Sehingga banyak binatang yang dulu bermusuhan sekarang berdamai. Yang lemah dan tua-tua menjalankan pekerjaan tolong-menolong atau gotong-royong.
Demikian pula yang terjadi antara si Kancil dan si Monyet, binatang mirip monyet. Mereka berjabat tangan dan dudk memperbincangkan nasibnya. Alangkah nikmat hidup masa dulu. Makanan sangat banyak dan penduduk tak sepadat sekarang.
Selama ini belum pernah terjadi bencana kekeringan dan kelaparan separah ini. Juga sepanjang kata para orang tua dahulu juga tak pernah mengalami musibah separah ini. Sampai daun-daun rontok dan pohon banyak yang mati. Sumber air menyusut, sungai tak mengalir air lagi.
Dahulu makanan begitu berlebih, batang kayu berganti-ganti berbuah, habis durian ganti mangga, musim mangga belum selesai manggis sudah masak, musim manggis belum selesai musim jambu telah mulai, demikian teraturnya buah-buahan berganti dari musim ke musim.
Mereka berganti-ganti pula menceritakan nasibnya yang malang. Istri kancil mati kelaparan dan istri Monyet jatuh sakit.
Si kancil mengusulkan, "Maukah Kang Monyet bekerja membuka ladang untuk menanam pisang?"
Monyet menggaruk-garuk kepalanya dan akhirnya menjawab," Bagaimana saya dapat meluangkan waktu untuk mencangkul dan mencari anak pisang, sebab istri saya jatuh sakit. Sedang untuk mencari makan untuk kami berdua saja menghabiskan waktu seharian. Kadang-kadang saya sendiri hanya sekali saja makan sehari. Bahkan, kadang saya makan sisa makanan istri."
"Bagaimana kalau kita menggali lubang berdua, kan tangan Kang Monyet lebih cakap daripada tangan saya. Mencari anak pisang biarlah saya sendiri," kata Kancil.
Monyet, biarpun telah berjabat tangan, hatinya masih belum percaya kepada kancil. Maklumlah, kancil akalnya selalu licik. Haruslah berhati-hati padanya agar tidak kena tipu. Lagipula, menurut Monyet paling tidak delapan bulan pisang itu baru berbuah. Dan selama menunggu itu, bagaimana ia mendapatkan makanan? Apalagi badannya sekarang sudah kurus kering, kalau harus bekerja keras membaut kebun pisang ia khawatir malah akan membuatnya mati.
Tetapi kancil berkata bahwa mereka harus sedia payung sebelum hujan. "Pisang tidak harus dirawat seperti tanaman-tanaman lain. Sementara kita mencari makanan sendiri-sendiri, pohon pisang akan tumbuh sendiri," bagitu kata kancil dengan meyakinkan.
Akhirnya Monyet membenarkan juga tapi ia mengajukan permintaan:" Baiklah! Tetapi kta berkebun dengan lahan sendiri-sendiri. Kita buat kebun saya sendiri baru kemudian kancil, bagaimana?"
"Itu licik! Kalau berkongsi harus jujur. Sama rata sama rasa, kalau tidak pasti tidak dapat berkah. Mari kita buat sepuluh lubang di lading Kang Monyet dulu, baru kemudian sepuluh lubang di kebun saya," kata kancil.
"Baiklah! Tetapi saya suka menanam bagian yang atas, sedang kancil bagian akarnya. Sebelum delapan bulan umur pisang jangan kita tengok-tengok Sesudah itu baru kita lihat kebun siapa yang berbuah lebat, "kata Monyet Ia berpikir tentunya pisangnya akan berbuah lebih dulu, sebab dekat ke pucuknya daripada pisang kancil yang tentu lama berbuahnya. Bahkan, mungkin pisangnya tak berbuah karena daunnya telah dipotong.
"Saya menurut saja maunya Kang Monyet, yang penting hasil kerja kita bias berhasil," kata Kancil dengan girang.
Kedua teman itu mulai menggali lubang. Biasanya si kancil yang panjang akal, tapi kali ini terpaksa ia rajin, sebab ia yang mengusulkan. Sedangkan si Monyet sangatlah malas. Kancil sudah selesai menggali lima lobang, Monyet baru selesai dengan lobang yang kedua. Dia pura-pura sangat lelah dan berbaring seperti akan putus napasnya.
Sesudah selesai lubang-lubang itu, lalu kancil mencari anak pisang dan monyet mengambil sekalian pucuknya. Sesudah selesai menanamnya maka kedua teman itu berpisah.
Istri monyet makin lama makin sakit. Dia meminta buah idaman yang susah didapat. Monyet mencarinya ke sana ke mari hingga ia mengembara sampai kelelahan. Kadang-kadang ia sampai masuk ke halaman orang dan mencuri buah delima atau jeruk manis. Biarpun ia ditembak orang, relalah dia daripada tidak membawa sama sekali buah yang diidamkan istrinya.
Kancil pun tidak mudah hidupnya, tetapi ia hidup sendiri tak menanggung siapapun. Lagipula badannya sehat. Dari daun-daun, ubi-ubi, dan buah-buahan yang jatuh atau sisa bajing dan burung, ia dapat hidup tentram. Sehingga masih ada waktunya untuk mencakar berkeliling batang pisangnya. Oleh sebab itu pisang-pisangnya tumbuh dengan subur dan lekas berjantung. Kancil menjadi sangat bergembira dan makin rajin membersihkan rumput-rumput yang mengganggu hidup pisangnya.
Sedangkan pisang milik si monyet lama kelamaan layu dan akhirnya menjadi busuk. Setelah si monyet melihat pisangnya mulai bertumbangan maka ia ingin melihat kebun kancil, tapi keadaan istrinya tambah parah. Ia tahu sebelum ajal berpantang mati, ia tak boleh perputus asa.
Lagipula, akhir-akhir ini istrinya punya cita-cita.
"Kalau saya sembuh, kita kerjakan bersama-sama kebun pisangnya. Kalau berbuah semua niscaya kita akan makmur. Sekarang cuaca begitu panas, apapun yang ditanam nampaknya tak akan bisa tumbuh. Kalau saya sudah sehat kembali, tak usah engkau, kekasihku, bekerja sekeras itu. Nanti aku manjakan suamiku kembali," sambil diusap-usapnya bulu suaminya dengan lembut. "Tidak! Istriku tidak boleh mati, walaupun aku harus lelah kesana-kemari mencari obat dan keinginannya," batin si monyet.
Tetapi sakit istri monyet rupanya tak dapat diobati lagi. Ketika bulan purnama dan alam demikian sunyi-senyap, istri monyet mati.Tetangganya terkejut mendengar ratap tangis yang datang dari tempat si monyet. Semua segera melayat dan menyabarkan si monyet.
Setelah rasa dukanya agak reda, si monyet ingat akan temannya, kancil. Dengan segera ia berangkat ke sana untuk memberitahu kemalangannya.
Lalu didapatinya rumah kancil yang tak begitu nampak karena tertutupi oleh rimbunnya kebun pisang yang subur. Tampak pula sebatang pisang raja sedang berbuah masak, kuning seperti emas.
Kancil amat senang melihat temannya datang. Si monyet lalu menceritakan nasibnya yang malang. Istrinya meninggal, pisangnya mati semua. Kancil berupaya menentramkan kesedihan temannya dengan perkataan yang lemah-lembut dan mengatakan turut berdukacita.
Sekarang mereka senasib, sama-sama kehilangan istri. Untuk menghibur hati, mereka pergi berjalan-jalan ke kebun pisang itu. Akhirnya mereka sampai di tempat pisang raja yang ranum itu.
"Mengapa pisang ini belum juga dipetik? tanya monyet, "untung tidak dicuri bajing dan burung."
"Saya tak pandai memanjat untuk memetik pisang itu, lagipula alangkah senang hati saya melihat buah seranum itu. Bila memetiknya, akan merusakannya. Sayang, kan."
Monyet mengalir air liurnya.
"Ijinkanlah aku memetiknya!"
Tanpa menanti jawaban kancil, si monyet telah melompat ke batang pisang, memanjat, lalu menggapai buahnya.
Melihat pisang demikian ranum, timbulah nafsu monyetnya. Maka lupalah dia terhadap sopan-santun, teman karibnya. Si monyet memetik sebuah yang termasak, dikupasnya dan dimakannya tergesa-gesa. Alangkah lezat rasanya! Belum habis ditelan, sudah dipetiknya lagi yang lain.
Kancil senang hatinya melihat temannya makan enak dan telah lupa akan kesedihan hatinya. "Kasihan, entah sudah berapa lama ia tidak makan karena merawat istrinya."
Tetapi sesudah monyet makan terus dan acuh saja padanya, ia lalu berkata," Lemparkan sebuah saja padaku, aku juga ingin mencicipi!"
Tetapi monyet tak menjawab. Entah karena tak terdengar atau pura-pura.
"Nah, sekarang itu untuk aku," kata kancil ketika monyet memetik pisang yang ketujuh.
Monyet tidak menjawab. Pisang-pisang seenak ini belum pernah dicecapnya. Dia mencari-cari kesalahan kancil.
"Hai, kancil, kalau hendak makan, panjat dan petiklah sendiri. Selama ini kau terus mengolok-olok orang, sekarang rasakan kebalikannya!"
"Hai, sahabatku, jangan lama berolok-olok! Aku ingin pula merasakan enaknya pisang yang kutanam dan selalu kurawat itu. Bagikan juga padaku!" kata kancil yang mulai curiga.
Monyet seolah-olah tak mendengar kata-kata kancil. Setelah habis sesisir dimulailah yang kedua. Kancil mulai hilang kesabarannya dan berusaha menuntut balas. Diam-diam diangkutnya batang padi kering dan ranting-ranting kering sebanyak-banyaknya ke bawah batang pisang itu lalu dibakarnya.
"Kalau panas katakana dingin, kalau dingin katakana panas, kang monyet!"
"Baik!" sahut monyet tanpa mengindahkan kancil. Ia terus makan dengan lahapnya.
Si kancil makin emosi, ia makin giat menambah ranting dan daun kering, sehingga makin lama api itu makin besar.
"Dingin, dingin!" teriak monyet.
Kancil terus juga menambah daun kering.
"Dingin, dingin," teriak monyet lagi.
Kancil makin cepat lagi mengambil jerami.
Akhirnya api sampai juga ke buah pisang dan bulu monyet bterbakar. Ketika ia hendak lari nampak api sudah demikian besar mengelilinginya.
"Tolong! Tolong!!" teriak monyet ketakutan.
Tetapi kancil hanya tertawa-tawa saja.
"Hai, kang monyet yang tak tahu membalas budi. Engkau sangka aku tak tahu akalmu sejak dari mulai menanam pisang itu. Sekarang rasakanlah hasil niatmu yang tidak baik itu!"
Belum selesai kancil mengata-ngatai si monyet telah jatuh berdebuk di tengah api besar itu. Kancil membiarkan monyet sampai menjadi bara. Akhirnya batang pisang itu rebah dan kancil memakan pisangnya dengan tenang dan tentram.
Kucing
Kucing
Cerpen Han Gagas
Bagi sejumlah orang, mungkin kucing begitu disayangi. Tapi aku amat membencinya. Warnanya yang elok tak membuat ku jatuh hati kepadanya. Apalagi ia telah membunuh anakku tepatnya janin dalam rahim isteriku. Hal itu aku ketahui setelah isteriku harus menjalani operasi kuret karena keguguran. Dokter memberi penjelasan virus TORCH sangat mungkin menjadi faktor penyebab janin itu berhenti dari pertumbuhannya.
Kami telah berdiskusi macam-macam dan menarik kesimpulan kucing tetangga yang sering berkeliran di seputar rumahku menjadi penyebar virus itu. Aku berniat membunuhnya. Sayang keberanianku terenggut keraguan. Kucing itu milik seorang preman kampung. Sedang aku, pendatang baru yang belum genap setahun tinggal di perumahan ini. Aku hanya menyimpan niat yang membara di dada itu.
***
Semua berawal ketika aku dan isteriku tinggal di perumahan. Walau rumah kontrakan ini kecil aku sudah amat bersyukur. Namanya saja perumahan biasa kalau temboknya ompong, kayu-jendela dan pintu yang dimakan rayap, plafon retak-retak, serta blandar dan reng bagian luar bangunan yang gapuk, itu biasa.
Setelah beberapa hari menempatinya, aku mulai terusik karena ada seekor kucing yang suka berada di plafon. Aku khawatir, berat badannya tak sanggup disangga plafon retak itu. Apalagi kucing itu sering ribut mengejar tikus.
Tak hanya menaiki plafon, kucing itu juga sering membuang kotorannya di halaman. Tanah halaman itu dicakari dengan kuku-kukunya hingga membentuk lubang. Lalu tak lama lagl lubang itu menjadi munjung berisi onggokan tahi kucing. Aku mulai membenci kucing itu.
Untuk mengenyahkan kekesalanku, aku sering mengusir kucing itu dengan gagang sapu. Tapi dasar kucing, ia tak pernah jera untuk kembali terutama pada saat malam tiba. Sering pula bila ia datang, aku segera berlari ke kamar mandi mengambil seciduk air lalu dengan cepat menyiramkannya. Dan, hatiku sedikit girang melihat kucing itu lari terbirit-birit. Tapi dasar kucing, setelah lewat hari, ia kembali. Aku geram dibuatnya.
Aku mulai berpikir untuk membunuh kucing itu. Memojokkannya di sudut rumah lalu menggebuknya dengan kayu, menembaknya dengan senapan angin, atau meracuninya. Aku memilih cara terakhir karena tampak lebih aman dan gampang. Tapi aku tetap tak tega membunuhnya, lagi pula ia milik seorang seorang preman. Aku tak mau persoalan ini menjadi runyam. la pasti tak rela kucingnya mati.
Lalu petaka itu datang tiba-tiba. Isteriku mengaduh, dari pangkal pahanya mengalir darah kental. Aku segera menyumbatnya dengan jarik agar darahnya berhenti. Lalu segera naik taksi meluncur ke rumah sakit. Namun terlambat, kata dokter jaga, janin itu telah gugur. Aku lemas, isteriku menangis. Petaka datang tiba-tiba. Kau tahu, betapa sakit kehilangan harapan. Betapa perih kehilangan kasih tercinta.
Dokter memanggilku, kami berdiskusi. Aku menjelaskan dulu isteriku pernah keguguran. la menyuruh agar istriku melakukan uji lab. Kata dokter, akhir-akhir ini banyak kasus keguguran berulang disebabkan oleh virus TORCH, khususnya toksoplasma. Virus yang disebarkan melalui daging dan sayur yang dimasak kurang matang, makanan hampir basi, kotoran kucing, anjing, burung dan lain-lain. Dari berbagai faktor itu, pikiranku langsung mengarah pada kucing tetangga. Aku makin benci dan bertekad membunuhnya.
Benar juga, hasil lab positif. Dendam menuntut. Bunuh balas bunuh.
***
Aku membeli racun tikus. Dosis kubuat lima kali lipat menyesuaikan tubuh kucing itu yang sekitar lima kalinya tikus. Kebetulan isteriku pas menggoreng ikan asin. Aku yakin sebentar lagi baunya akan mengundang kucing itu datang. Dan betul juga, bunyi meong terdengar mendekat. Dadaku bergolak menahan hati yang geram.
Malamnya aku menaruh ikan itu hanya kepalanya saja di keranjang sampah. Tentu racun sudah kutambahi lagi dengan memasukkannya ke dalam batok kepala ikan. Dari celah jendela aku mengawasinya. Tak lama kemudian, terdengar suara kemrusak. Mataku memicing, tampak kucing itu mengais sampah. Dan, hatiku girang, ia menggigit kepala ikan itu. Dalam tempo singkat, yang digigit tertelan habis masuk ke perutnya. Aku menunggu. Kucing itu mengeong pelan, lalu diam.
Aku segera mendekat. Tubuhnya kubungkus dengan tas kresek, segera aku ke kali yang tak begitu jauh dan membuangnya. Derasnya aliran air menelan bungkusan tas kresek itu. Aku pulang dengan hati senang sekaligus bergetar, semoga majikannya tak pernah tahu peristiwa ini. Paginya, pintuku digedor. Aku gemetar, isteriku juga. la kusuruh tenang di kamar. Aku keluar dan mendapati preman itu kelihatan marah. Pisau terlipat di pinggangnya. Aku gentar.
"Kucingku hingga kini belum pulang, kau tahu di mana kucingku?"
Aku diam.
"Hah, kau bisu ya!"
Aku tetap diam.
"Dari semua orang di kampung ini, katanya kau yang benci sama kucingku. Temanku, saat mancing semalam melihatmu membuang tas kresek ke kali. Awas jika kau telah membunuh dan membuangnya!"
Aku coba tenang.
"Jika kau membunuhnya, aku akan balas membunuhmu!"
Kata-kata itu menyembur mukaku, menghantam dadaku. Memercikkan bara.
'Tapi, ia telah membunuh anakku," sahutku.
"Apa? Kucing membunuh manusia! Mana ada itu."
"Isteriku keguguran dan dari hasil uji lab, kata dokter disebabkan oleh virus tokso yang juga disebarkan melalui kotoran kucing," sahutku lebih berani.
"Tapi, apa yang punya kucing itu aku saja?"
"Kucingmu yang sering berkeliaran di rumahku."
"Mana buktinya kucingku mengandung virus itu?"
Aku diam.
"Berarti benar kau telah membunuh kucingku. Edan kowe!"
la mengambil pisau dan menunjukkan kilatannya ke mukaku. Mataku melihat tajamnya pisau yang baru saja diasah.
Para tetangga mulai berdatangan namun mereka hanya menatap. Jelas mereka hanya menonton, tak berani lebih. Huh, semua penakut, tunduk sama preman kampung. Tiba-tiba keberanian membuncah di dadaku. Ditatap banyak orang, egoku naik, nyaliku menguat.
"Kau hanya berani berkelahi dengan pisau sementara lawanmu bertangan kosong."
"Kau menantangku?"
"Kalau kau lelaki, mari kita berkelahi tanpa senjata."
"Ayo!"
"Jangan Bang!" isteriku keluar rumah dan menahan langkahku.
"Biarkan suamimu ini memberi pelajaran pada preman kampung ini. Preman musuh masyarakat. Kita harus berani melawannya!"
Lalu kami mendekat, membuat arena di tengah jalan. Orang-orang hanya merubung, menonton.
"Kalau kau jantan buang dulu pisaumu!" '
la membuang pisau itu ke tepi jalan.
"Aku memang membunuh kucing sialan itu!"
Ia mendengus marah. Aku senang, kemarahan membuat serangannya bakal ngawur.
La menyerang dengan cepat, gesit. Aku berkelit. Serangannya membabi-buta. Dan dengan mudah akhirnya aku menaklukkannya. Serangkaian pukulanku menghantam mukanya dan tendanganku menjerembabkan tubuhnya. Sorot matanya yang angkuh, tato tubuhnya, dan cat merah rambutnya ternyata hanya sekadar sok jagoan saja.
la lunglai. Orang-orang tampak tersenyum.
"Ayo bangun!"
Kutarik kerah kaosnya dan sekali lagi tonjokanku menghantam mukanya. Darah meleleh dari hidung dan bibirnya.
"Ampun Mas."
Aku lepaskan dia. Orang-orang mulai mendekat. Aku diam, mundur perlahan lalu berbalik melihat isteriku. Tapi, ia tercekat, wajahnya pucat. Aku tergeragap. Aku berbalik, namun...
..Jcreesssh...
"Ahggkkh.:." Pisau itu menancap di perutku. Darah mengucur deras. Dunia menjadi gelap. Begitu gelap.
"Bang bangun! Hari sudah siang:"
Aku kaget, isteriku memukul-mukul pahaku, ternyata aku bermimpi.
Aku tercenung. Isteriku bertanya, "Ada apa, Bang?"
Aku menggeleng.
Aku bangun dengan malas. Menimbang-nimbang untuk pindah rumah atau jadi meracuni kucing itu.
Ternyata isteriku sedang menggoreng ikan asin.
Aku segera pergi membeli racun tikus.
Solo, November 2006
Tentang kami
Komunitas Aryobegal hanya beranggota: Abednego Afriadi dan Han Gagas. Hanya terdiri dari dua anggota saja, bersifat tertutup dalam arti tak menerima anggota baru, hanya dalam kegiatannya bakal mengundang penulis tamu untuk membongkar segala jenis karya. Komunitas ini mencintai segala jenis karya sastra dari cerita anak yang lucu2 dan “ringan” sampai karya sejenis “aryobegal” yang sangar, penuh kekerasan, teror, dan kriminal. Namun, hati kami tetap lembut selembut “Sutra” (yang diedarkan di album itu lho…)
Sabtu, 21 Juni 2008
Tarian Syafaat
Langit yang semula berwarna merah pelahan luntur hingga memutih. Awan-awan yang semula memisah, kini mulai tersebar dan berkumpul kembali menjadi kawanan domba yang mendamba kesejukan. Setelah sekian tahun menguap di padang gurun yang gersang kerontang. “Maya, engkaukah itu?” tanyaku berseru, mendongak ke atas. Di mana Maya? Tak kutemukan sebesit pun wajahnya di tengah-tengah gumpalan awan itu.
“Maya?”
Angin bertiup sepoi-sepoi. Memaksa rimbun pohon untuk bergoyang di lereng bukit. Kemarau memang telah berlalu, namun mata air di ujung jalan setapak menuju bukit belum juga mengucur. Ah, dahaga benar kurasa. Maya memang tak terlalu bodoh, ia tercipta untukku selama aku masih berada di bawah kolong langit ini. Mungkin ia bersembunyi, mengajakku bermain petak umpat. Namun yang kulihat hanya patung-patung anak-anak kecil bersayap, mengitari pemakaman.
Anjing-anjing hutan yang turun dari atas bukit mengurungkan penyerbuan bagi rombongan pengantar jenasah. Yah, mereka lebih tahu. Mereka lebih merasa menjadi binatang terhina, terakus dan menjijikan. Setara dengan babi-babi yang selalu mengendus-endus kotoran yang keluar dari perut raja-raja kecil di setiap apartement atau perumahan elite.
Maya kau malaikat secantik bidadari yang kutemui di antara para bidadari yang berlenggok di surga-surga imitasi. Mereka tak bisa menyembunyikan taringnya kala bibirnya menebar senyum. Kau lebih ayu dan semilak, ketika air pegunungan itu menyiram. Kau tak perlu bedak! Sebab sudah kau taburkan syafaat setiap pagi. Inilah bidadari yang kukasihi, kepadanyalah aku selalu menyampaikan kekaguman semesta alam. Dia bukanlah utusan yang diturunkan ke dunia, tapi ia adalah bidadari, pelukis dari surga bagi domba-domba yang terpecah dari segala penjuru kolong langit.
Ah, mengertikah engkau tentang ini? Tentang kerinduan lelaki terhadap bidadari dari surga yang sekilas aku bisa melihatnya, tanpa mantera. Ia besyafaat setiap hari untukku. Ia menaruh sebatang lilin untuk kunyalakan, ketika giluta menggeliat, menyekapku dalam lorong-lorong waktu yang tak kuketahui ujungnya. “Sam, di mana kau?”
“Aku di sini menunggumu!”
“Apa kau melihat pemetik kecapi yang baru saja meniupkan bisikan di telingaku?”
“Siapa?”
“Seorang pangeran yang gagah.”
“Di mana kau kenal.”
“Dalam mimpi.”
“Ah kau bercanda.”
“Sumpah, langit dan bumi tak akan kupertaruhkan.”
“Lantas siapa pangeran yang kau cari?” jawabku seraya mendongak mencari di mana ia hinggap. Oh Amboi cantiknya. Maya turun menjadi kupu-kupu. Genit gemulai tangannya melukis gerak tari bayangannya di atas bunga matahari yang mulai menguning. “Di mana Sam? Tahu tidak?”
“Bukankah pangeran-pangeran itu terlalu angkuh? Sudikah engkau di suntingnya?”
“Kau salah Sam. Ia baru saja dinobatkan dan di angkat dari comberan pinggiran jalan.”
“Siapakah ia?”
“Seorang lelaki yang berjubah putih dengan mahkota daun nangka melingkar di kepalanya. Rambutnya sedikit ikal. Badannya tidak terlalu kekar.”
Aku tak bergeming sedikitpun. Tak ada sesuatu yang kudengar lagi. Sedangkan Maya sudah terburu-buru terbang mencari pangeran yang semalam ia impikan.
Langit terbuka. Merpati terbang berputar-putar di atasnya. Angin perlahan berdesir lembut. Cahaya nampak kemilau lebih terang dari matahari. “Inilah anakku yang kukasihi kepadanyalah aku berkenan 1.”
Suara asing kudengar. Kata-kata itu nyaris seperti yang diungkapkan para pendeta dalam kebaktian. “Maya, kau kah itu?”
“Bukan, memang kau dengar apa Sam?”
“Ah, biasa,” jawabku sedikit menyembunyikan ketakutan yang maha dasyat.
Pergilah ke telaga! Aku tunggu kau di sana. Mari kita tengok tubuh-tubuh yang telanjang membersihkan dirinya dari segala macam debu. Mereka adalah perantau. Salah satu dari perantau itu adalah pangeran yang sekarang kucari. Di mana dia?”
“Maya tidakkah kau lupa sering bersyafaat bagiku? Apakah kau dengan seenaknya bersyafaat bagi orang lain? Malaikat, setan, dan segala mahkluk yang belum sama sekali pernah kulihat?” teriakku.
Matahari perlahan merambat ke ufuk barat. Menggeser langit biru hingga kembali memerah. Aku merasa kehilangan Maya. Aku harus bertemu dengannya sebelum matahari bersembunyi di balik gunung. Sebelum tak kulihat lagi kepak sayapnya terbang mengitariku kala aku berteduh di sebuah taman. Maya pernah memberikan tanda salib di keningku. Namun tanda itu musnah tersapu angin, air dan debu-debu yang setiap hari melintas menjadi serigala rakus yang menerkam mangsanya.
“Maya, kau tahu, aku ingin mencarinya bukan?” keluhku.
Aha, lihatlah, wajah Maya berseri-seri, terbang mengitari taman bunga. Kecantikan yang maha dasyat, sapuan kepak sayapnya tak menutupi semilak wajah ayunya, tanpa make up atau cat rambut. Namun barisan bunga yang merekah menangisi kepergiannya. Tangisnya menderu seperti mesin godam penghancur bumi. Karena Maya mulai patah arang, enggan lagi mencari pengeran itu, dan tentu saja juga enggan turun lagi ke bumi.
Anak-anak kecil berlari melambat di antara gumpalan-gumpalan awan dan domba-domba putih. Di tengah pintu langit yang terbuka sore itu, mereka melambai-lambaikan tangannya. Sedangkan Maya semakin bingung, di mana ia bisa menemukan pangeran itu.
“Maya? Kau tak jadi mencarinya di telaga?”
”Mustahil, telaga dan mata air mengering.”
”Oh, iya, siapa tahu ia sedang menuai padi yang menguning sore ini?”
“ya Tuhan, ampunilah!”
Dia berada di sawah-sawah. Sedari pagi sepertinya aku melihat ia mengenakan jubah dan bermahkotakan jerami-jerami dan daun nangka. Ia menenteng kecapi sembari melantunkan Mazmur. Bisakah aku ikut mencarinya? Lihat! para malaikat kecil sudah memanggilnya. Domba-domba yang pulang telah menunggunya. Lihat, langit juga menguning. Bukankah ia terlambat kau panggil pulang? Kau akan tenggelam di lautan jerami. Sayapmu pasti akan robek tersayat tanduk-tanduk belalang.
“Ah tanduk belalang terlalu lunak bagiku,” jawab Maya. Panji dan gada telah kupinjam darinya. Tapi aku harus mengajaknya pulang. Sebab ladang telah menguning. Biarlah ia memetik berkarung-karung buah-buah surga, lantas mengangkutnya. Membagikannya sambil melantunkan nyanyian-nyanyian Daud.
“Maya, cepat kau panggil dia! Aku ikut!” seruku.
Aku mengejar Maya yang terbang menyusuri jalanan setapak. Aku lihat ia nampak lebih cantik dari biasanya. Ia tinggalkan jaring-jaring syafaat ke arah mukaku. Jaring-jaring bercahaya, tak panas dan tak silau. O, jaring-jaring manusia yang dasyat diturunkan di bumi untuk menjemput para pengabdi surga. Menjadi pewaris tunggal yang abadi. Sedangkan leher pangeran itu berkalungkan kecapi. Tak sedikit pun sisa comberan di muka, tubuh dan setiap lekuk tubuhnya. Ia masih mengenakan jubah putih itu. Nampak melebihi raja-raja yang berkuasa dan bertahta di atas bumi. Yah ialah pangeran yang segera dinobatkan, tanpa ijasah dan tinta-tinta palsu.
Aku lihat ladang telah habis tertuai. Pangeran itu terbang dengan kepak sayapnya. Lantas Maya terbang melesat menuju ribuan malaikat kecil berjubah putih yang memanggilnya dari pintu langit.
Oh, langit terbuka, malaikat-malaikat kecil bersorak sorai, tepuk tangannnya riuh terdengar hingga menggoncangkan pondasi-pondasi angkuh barisan istana para setan di segala zaman. Yah, aku harus menyusulnya. Waktunya telah tiba, aku harus kembali menebar benih-benih di ladang itu. Sebab padi cepat kali menguning. Hari sudah menjelang malam. Aku harus kembali istirahat. Pagi kita bekerja lagi. Membajak ladang yang sempit namun subur, sebab semua telah menjadi menara dan berhala bertopeng sangar. Tak ada lagi waktu untuk menangis, merenung dan bermalas-malasan.
Langit kembali tertutup. Sorak-sorai malaikat masih terdengar bergemuruh, menyisakan senyuman tulus dari pilu dan peluh yang menetes. Ufuk barat masih menyisakan sedikit cahaya. Maya dan pangeran itu hanya nampak bayang-bayangnya, kala matahari yang beranjak pulang menyiramkan jingga. Mereka melambaikan tangan kepadaku.
Solo, Juni 2007
Teruntuk Eko Nugroho, salamku kepada Bapa…
dimuat di Majalah GONG Edisi, Agustus 2007