Kisah Kancil dan Monyet
cernak: Han gagas
Musim kemarau teramat panjang hingga mendatangkan musibah kelaparan di mana-mana. Sehingga banyak binatang yang dulu bermusuhan sekarang berdamai. Yang lemah dan tua-tua menjalankan pekerjaan tolong-menolong atau gotong-royong.
Demikian pula yang terjadi antara si Kancil dan si Monyet, binatang mirip monyet. Mereka berjabat tangan dan dudk memperbincangkan nasibnya. Alangkah nikmat hidup masa dulu. Makanan sangat banyak dan penduduk tak sepadat sekarang.
Selama ini belum pernah terjadi bencana kekeringan dan kelaparan separah ini. Juga sepanjang kata para orang tua dahulu juga tak pernah mengalami musibah separah ini. Sampai daun-daun rontok dan pohon banyak yang mati. Sumber air menyusut, sungai tak mengalir air lagi.
Dahulu makanan begitu berlebih, batang kayu berganti-ganti berbuah, habis durian ganti mangga, musim mangga belum selesai manggis sudah masak, musim manggis belum selesai musim jambu telah mulai, demikian teraturnya buah-buahan berganti dari musim ke musim.
Mereka berganti-ganti pula menceritakan nasibnya yang malang. Istri kancil mati kelaparan dan istri Monyet jatuh sakit.
Si kancil mengusulkan, "Maukah Kang Monyet bekerja membuka ladang untuk menanam pisang?"
Monyet menggaruk-garuk kepalanya dan akhirnya menjawab," Bagaimana saya dapat meluangkan waktu untuk mencangkul dan mencari anak pisang, sebab istri saya jatuh sakit. Sedang untuk mencari makan untuk kami berdua saja menghabiskan waktu seharian. Kadang-kadang saya sendiri hanya sekali saja makan sehari. Bahkan, kadang saya makan sisa makanan istri."
"Bagaimana kalau kita menggali lubang berdua, kan tangan Kang Monyet lebih cakap daripada tangan saya. Mencari anak pisang biarlah saya sendiri," kata Kancil.
Monyet, biarpun telah berjabat tangan, hatinya masih belum percaya kepada kancil. Maklumlah, kancil akalnya selalu licik. Haruslah berhati-hati padanya agar tidak kena tipu. Lagipula, menurut Monyet paling tidak delapan bulan pisang itu baru berbuah. Dan selama menunggu itu, bagaimana ia mendapatkan makanan? Apalagi badannya sekarang sudah kurus kering, kalau harus bekerja keras membaut kebun pisang ia khawatir malah akan membuatnya mati.
Tetapi kancil berkata bahwa mereka harus sedia payung sebelum hujan. "Pisang tidak harus dirawat seperti tanaman-tanaman lain. Sementara kita mencari makanan sendiri-sendiri, pohon pisang akan tumbuh sendiri," bagitu kata kancil dengan meyakinkan.
Akhirnya Monyet membenarkan juga tapi ia mengajukan permintaan:" Baiklah! Tetapi kta berkebun dengan lahan sendiri-sendiri. Kita buat kebun saya sendiri baru kemudian kancil, bagaimana?"
"Itu licik! Kalau berkongsi harus jujur. Sama rata sama rasa, kalau tidak pasti tidak dapat berkah. Mari kita buat sepuluh lubang di lading Kang Monyet dulu, baru kemudian sepuluh lubang di kebun saya," kata kancil.
"Baiklah! Tetapi saya suka menanam bagian yang atas, sedang kancil bagian akarnya. Sebelum delapan bulan umur pisang jangan kita tengok-tengok Sesudah itu baru kita lihat kebun siapa yang berbuah lebat, "kata Monyet Ia berpikir tentunya pisangnya akan berbuah lebih dulu, sebab dekat ke pucuknya daripada pisang kancil yang tentu lama berbuahnya. Bahkan, mungkin pisangnya tak berbuah karena daunnya telah dipotong.
"Saya menurut saja maunya Kang Monyet, yang penting hasil kerja kita bias berhasil," kata Kancil dengan girang.
Kedua teman itu mulai menggali lubang. Biasanya si kancil yang panjang akal, tapi kali ini terpaksa ia rajin, sebab ia yang mengusulkan. Sedangkan si Monyet sangatlah malas. Kancil sudah selesai menggali lima lobang, Monyet baru selesai dengan lobang yang kedua. Dia pura-pura sangat lelah dan berbaring seperti akan putus napasnya.
Sesudah selesai lubang-lubang itu, lalu kancil mencari anak pisang dan monyet mengambil sekalian pucuknya. Sesudah selesai menanamnya maka kedua teman itu berpisah.
Istri monyet makin lama makin sakit. Dia meminta buah idaman yang susah didapat. Monyet mencarinya ke sana ke mari hingga ia mengembara sampai kelelahan. Kadang-kadang ia sampai masuk ke halaman orang dan mencuri buah delima atau jeruk manis. Biarpun ia ditembak orang, relalah dia daripada tidak membawa sama sekali buah yang diidamkan istrinya.
Kancil pun tidak mudah hidupnya, tetapi ia hidup sendiri tak menanggung siapapun. Lagipula badannya sehat. Dari daun-daun, ubi-ubi, dan buah-buahan yang jatuh atau sisa bajing dan burung, ia dapat hidup tentram. Sehingga masih ada waktunya untuk mencakar berkeliling batang pisangnya. Oleh sebab itu pisang-pisangnya tumbuh dengan subur dan lekas berjantung. Kancil menjadi sangat bergembira dan makin rajin membersihkan rumput-rumput yang mengganggu hidup pisangnya.
Sedangkan pisang milik si monyet lama kelamaan layu dan akhirnya menjadi busuk. Setelah si monyet melihat pisangnya mulai bertumbangan maka ia ingin melihat kebun kancil, tapi keadaan istrinya tambah parah. Ia tahu sebelum ajal berpantang mati, ia tak boleh perputus asa.
Lagipula, akhir-akhir ini istrinya punya cita-cita.
"Kalau saya sembuh, kita kerjakan bersama-sama kebun pisangnya. Kalau berbuah semua niscaya kita akan makmur. Sekarang cuaca begitu panas, apapun yang ditanam nampaknya tak akan bisa tumbuh. Kalau saya sudah sehat kembali, tak usah engkau, kekasihku, bekerja sekeras itu. Nanti aku manjakan suamiku kembali," sambil diusap-usapnya bulu suaminya dengan lembut. "Tidak! Istriku tidak boleh mati, walaupun aku harus lelah kesana-kemari mencari obat dan keinginannya," batin si monyet.
Tetapi sakit istri monyet rupanya tak dapat diobati lagi. Ketika bulan purnama dan alam demikian sunyi-senyap, istri monyet mati.Tetangganya terkejut mendengar ratap tangis yang datang dari tempat si monyet. Semua segera melayat dan menyabarkan si monyet.
Setelah rasa dukanya agak reda, si monyet ingat akan temannya, kancil. Dengan segera ia berangkat ke sana untuk memberitahu kemalangannya.
Lalu didapatinya rumah kancil yang tak begitu nampak karena tertutupi oleh rimbunnya kebun pisang yang subur. Tampak pula sebatang pisang raja sedang berbuah masak, kuning seperti emas.
Kancil amat senang melihat temannya datang. Si monyet lalu menceritakan nasibnya yang malang. Istrinya meninggal, pisangnya mati semua. Kancil berupaya menentramkan kesedihan temannya dengan perkataan yang lemah-lembut dan mengatakan turut berdukacita.
Sekarang mereka senasib, sama-sama kehilangan istri. Untuk menghibur hati, mereka pergi berjalan-jalan ke kebun pisang itu. Akhirnya mereka sampai di tempat pisang raja yang ranum itu.
"Mengapa pisang ini belum juga dipetik? tanya monyet, "untung tidak dicuri bajing dan burung."
"Saya tak pandai memanjat untuk memetik pisang itu, lagipula alangkah senang hati saya melihat buah seranum itu. Bila memetiknya, akan merusakannya. Sayang, kan."
Monyet mengalir air liurnya.
"Ijinkanlah aku memetiknya!"
Tanpa menanti jawaban kancil, si monyet telah melompat ke batang pisang, memanjat, lalu menggapai buahnya.
Melihat pisang demikian ranum, timbulah nafsu monyetnya. Maka lupalah dia terhadap sopan-santun, teman karibnya. Si monyet memetik sebuah yang termasak, dikupasnya dan dimakannya tergesa-gesa. Alangkah lezat rasanya! Belum habis ditelan, sudah dipetiknya lagi yang lain.
Kancil senang hatinya melihat temannya makan enak dan telah lupa akan kesedihan hatinya. "Kasihan, entah sudah berapa lama ia tidak makan karena merawat istrinya."
Tetapi sesudah monyet makan terus dan acuh saja padanya, ia lalu berkata," Lemparkan sebuah saja padaku, aku juga ingin mencicipi!"
Tetapi monyet tak menjawab. Entah karena tak terdengar atau pura-pura.
"Nah, sekarang itu untuk aku," kata kancil ketika monyet memetik pisang yang ketujuh.
Monyet tidak menjawab. Pisang-pisang seenak ini belum pernah dicecapnya. Dia mencari-cari kesalahan kancil.
"Hai, kancil, kalau hendak makan, panjat dan petiklah sendiri. Selama ini kau terus mengolok-olok orang, sekarang rasakan kebalikannya!"
"Hai, sahabatku, jangan lama berolok-olok! Aku ingin pula merasakan enaknya pisang yang kutanam dan selalu kurawat itu. Bagikan juga padaku!" kata kancil yang mulai curiga.
Monyet seolah-olah tak mendengar kata-kata kancil. Setelah habis sesisir dimulailah yang kedua. Kancil mulai hilang kesabarannya dan berusaha menuntut balas. Diam-diam diangkutnya batang padi kering dan ranting-ranting kering sebanyak-banyaknya ke bawah batang pisang itu lalu dibakarnya.
"Kalau panas katakana dingin, kalau dingin katakana panas, kang monyet!"
"Baik!" sahut monyet tanpa mengindahkan kancil. Ia terus makan dengan lahapnya.
Si kancil makin emosi, ia makin giat menambah ranting dan daun kering, sehingga makin lama api itu makin besar.
"Dingin, dingin!" teriak monyet.
Kancil terus juga menambah daun kering.
"Dingin, dingin," teriak monyet lagi.
Kancil makin cepat lagi mengambil jerami.
Akhirnya api sampai juga ke buah pisang dan bulu monyet bterbakar. Ketika ia hendak lari nampak api sudah demikian besar mengelilinginya.
"Tolong! Tolong!!" teriak monyet ketakutan.
Tetapi kancil hanya tertawa-tawa saja.
"Hai, kang monyet yang tak tahu membalas budi. Engkau sangka aku tak tahu akalmu sejak dari mulai menanam pisang itu. Sekarang rasakanlah hasil niatmu yang tidak baik itu!"
Belum selesai kancil mengata-ngatai si monyet telah jatuh berdebuk di tengah api besar itu. Kancil membiarkan monyet sampai menjadi bara. Akhirnya batang pisang itu rebah dan kancil memakan pisangnya dengan tenang dan tentram.
Senin, 30 Juni 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar