Kucing
Cerpen Han Gagas
Bagi sejumlah orang, mungkin kucing begitu disayangi. Tapi aku amat membencinya. Warnanya yang elok tak membuat ku jatuh hati kepadanya. Apalagi ia telah membunuh anakku tepatnya janin dalam rahim isteriku. Hal itu aku ketahui setelah isteriku harus menjalani operasi kuret karena keguguran. Dokter memberi penjelasan virus TORCH sangat mungkin menjadi faktor penyebab janin itu berhenti dari pertumbuhannya.
Kami telah berdiskusi macam-macam dan menarik kesimpulan kucing tetangga yang sering berkeliran di seputar rumahku menjadi penyebar virus itu. Aku berniat membunuhnya. Sayang keberanianku terenggut keraguan. Kucing itu milik seorang preman kampung. Sedang aku, pendatang baru yang belum genap setahun tinggal di perumahan ini. Aku hanya menyimpan niat yang membara di dada itu.
***
Semua berawal ketika aku dan isteriku tinggal di perumahan. Walau rumah kontrakan ini kecil aku sudah amat bersyukur. Namanya saja perumahan biasa kalau temboknya ompong, kayu-jendela dan pintu yang dimakan rayap, plafon retak-retak, serta blandar dan reng bagian luar bangunan yang gapuk, itu biasa.
Setelah beberapa hari menempatinya, aku mulai terusik karena ada seekor kucing yang suka berada di plafon. Aku khawatir, berat badannya tak sanggup disangga plafon retak itu. Apalagi kucing itu sering ribut mengejar tikus.
Tak hanya menaiki plafon, kucing itu juga sering membuang kotorannya di halaman. Tanah halaman itu dicakari dengan kuku-kukunya hingga membentuk lubang. Lalu tak lama lagl lubang itu menjadi munjung berisi onggokan tahi kucing. Aku mulai membenci kucing itu.
Untuk mengenyahkan kekesalanku, aku sering mengusir kucing itu dengan gagang sapu. Tapi dasar kucing, ia tak pernah jera untuk kembali terutama pada saat malam tiba. Sering pula bila ia datang, aku segera berlari ke kamar mandi mengambil seciduk air lalu dengan cepat menyiramkannya. Dan, hatiku sedikit girang melihat kucing itu lari terbirit-birit. Tapi dasar kucing, setelah lewat hari, ia kembali. Aku geram dibuatnya.
Aku mulai berpikir untuk membunuh kucing itu. Memojokkannya di sudut rumah lalu menggebuknya dengan kayu, menembaknya dengan senapan angin, atau meracuninya. Aku memilih cara terakhir karena tampak lebih aman dan gampang. Tapi aku tetap tak tega membunuhnya, lagi pula ia milik seorang seorang preman. Aku tak mau persoalan ini menjadi runyam. la pasti tak rela kucingnya mati.
Lalu petaka itu datang tiba-tiba. Isteriku mengaduh, dari pangkal pahanya mengalir darah kental. Aku segera menyumbatnya dengan jarik agar darahnya berhenti. Lalu segera naik taksi meluncur ke rumah sakit. Namun terlambat, kata dokter jaga, janin itu telah gugur. Aku lemas, isteriku menangis. Petaka datang tiba-tiba. Kau tahu, betapa sakit kehilangan harapan. Betapa perih kehilangan kasih tercinta.
Dokter memanggilku, kami berdiskusi. Aku menjelaskan dulu isteriku pernah keguguran. la menyuruh agar istriku melakukan uji lab. Kata dokter, akhir-akhir ini banyak kasus keguguran berulang disebabkan oleh virus TORCH, khususnya toksoplasma. Virus yang disebarkan melalui daging dan sayur yang dimasak kurang matang, makanan hampir basi, kotoran kucing, anjing, burung dan lain-lain. Dari berbagai faktor itu, pikiranku langsung mengarah pada kucing tetangga. Aku makin benci dan bertekad membunuhnya.
Benar juga, hasil lab positif. Dendam menuntut. Bunuh balas bunuh.
***
Aku membeli racun tikus. Dosis kubuat lima kali lipat menyesuaikan tubuh kucing itu yang sekitar lima kalinya tikus. Kebetulan isteriku pas menggoreng ikan asin. Aku yakin sebentar lagi baunya akan mengundang kucing itu datang. Dan betul juga, bunyi meong terdengar mendekat. Dadaku bergolak menahan hati yang geram.
Malamnya aku menaruh ikan itu hanya kepalanya saja di keranjang sampah. Tentu racun sudah kutambahi lagi dengan memasukkannya ke dalam batok kepala ikan. Dari celah jendela aku mengawasinya. Tak lama kemudian, terdengar suara kemrusak. Mataku memicing, tampak kucing itu mengais sampah. Dan, hatiku girang, ia menggigit kepala ikan itu. Dalam tempo singkat, yang digigit tertelan habis masuk ke perutnya. Aku menunggu. Kucing itu mengeong pelan, lalu diam.
Aku segera mendekat. Tubuhnya kubungkus dengan tas kresek, segera aku ke kali yang tak begitu jauh dan membuangnya. Derasnya aliran air menelan bungkusan tas kresek itu. Aku pulang dengan hati senang sekaligus bergetar, semoga majikannya tak pernah tahu peristiwa ini. Paginya, pintuku digedor. Aku gemetar, isteriku juga. la kusuruh tenang di kamar. Aku keluar dan mendapati preman itu kelihatan marah. Pisau terlipat di pinggangnya. Aku gentar.
"Kucingku hingga kini belum pulang, kau tahu di mana kucingku?"
Aku diam.
"Hah, kau bisu ya!"
Aku tetap diam.
"Dari semua orang di kampung ini, katanya kau yang benci sama kucingku. Temanku, saat mancing semalam melihatmu membuang tas kresek ke kali. Awas jika kau telah membunuh dan membuangnya!"
Aku coba tenang.
"Jika kau membunuhnya, aku akan balas membunuhmu!"
Kata-kata itu menyembur mukaku, menghantam dadaku. Memercikkan bara.
'Tapi, ia telah membunuh anakku," sahutku.
"Apa? Kucing membunuh manusia! Mana ada itu."
"Isteriku keguguran dan dari hasil uji lab, kata dokter disebabkan oleh virus tokso yang juga disebarkan melalui kotoran kucing," sahutku lebih berani.
"Tapi, apa yang punya kucing itu aku saja?"
"Kucingmu yang sering berkeliaran di rumahku."
"Mana buktinya kucingku mengandung virus itu?"
Aku diam.
"Berarti benar kau telah membunuh kucingku. Edan kowe!"
la mengambil pisau dan menunjukkan kilatannya ke mukaku. Mataku melihat tajamnya pisau yang baru saja diasah.
Para tetangga mulai berdatangan namun mereka hanya menatap. Jelas mereka hanya menonton, tak berani lebih. Huh, semua penakut, tunduk sama preman kampung. Tiba-tiba keberanian membuncah di dadaku. Ditatap banyak orang, egoku naik, nyaliku menguat.
"Kau hanya berani berkelahi dengan pisau sementara lawanmu bertangan kosong."
"Kau menantangku?"
"Kalau kau lelaki, mari kita berkelahi tanpa senjata."
"Ayo!"
"Jangan Bang!" isteriku keluar rumah dan menahan langkahku.
"Biarkan suamimu ini memberi pelajaran pada preman kampung ini. Preman musuh masyarakat. Kita harus berani melawannya!"
Lalu kami mendekat, membuat arena di tengah jalan. Orang-orang hanya merubung, menonton.
"Kalau kau jantan buang dulu pisaumu!" '
la membuang pisau itu ke tepi jalan.
"Aku memang membunuh kucing sialan itu!"
Ia mendengus marah. Aku senang, kemarahan membuat serangannya bakal ngawur.
La menyerang dengan cepat, gesit. Aku berkelit. Serangannya membabi-buta. Dan dengan mudah akhirnya aku menaklukkannya. Serangkaian pukulanku menghantam mukanya dan tendanganku menjerembabkan tubuhnya. Sorot matanya yang angkuh, tato tubuhnya, dan cat merah rambutnya ternyata hanya sekadar sok jagoan saja.
la lunglai. Orang-orang tampak tersenyum.
"Ayo bangun!"
Kutarik kerah kaosnya dan sekali lagi tonjokanku menghantam mukanya. Darah meleleh dari hidung dan bibirnya.
"Ampun Mas."
Aku lepaskan dia. Orang-orang mulai mendekat. Aku diam, mundur perlahan lalu berbalik melihat isteriku. Tapi, ia tercekat, wajahnya pucat. Aku tergeragap. Aku berbalik, namun...
..Jcreesssh...
"Ahggkkh.:." Pisau itu menancap di perutku. Darah mengucur deras. Dunia menjadi gelap. Begitu gelap.
"Bang bangun! Hari sudah siang:"
Aku kaget, isteriku memukul-mukul pahaku, ternyata aku bermimpi.
Aku tercenung. Isteriku bertanya, "Ada apa, Bang?"
Aku menggeleng.
Aku bangun dengan malas. Menimbang-nimbang untuk pindah rumah atau jadi meracuni kucing itu.
Ternyata isteriku sedang menggoreng ikan asin.
Aku segera pergi membeli racun tikus.
Solo, November 2006
Tidak ada komentar:
Posting Komentar