Senin, 30 Juni 2008

Kucing

Kucing

Cerpen Han Gagas

Bagi sejumlah orang, mungkin kucing begitu disayangi. Ta­pi aku amat membencinya. Warnanya yang elok tak membuat ku jatuh hati kepadanya. Apalagi ia telah membunuh anakku tepatnya janin dalam rahim isteriku. Hal itu aku ketahui setelah isteriku harus menjalani operasi kuret karena ke­guguran. Dokter memberi penjelas­an virus TORCH sangat mungkin menjadi faktor penyebab janin itu berhenti dari pertumbuhannya.

Kami telah berdiskusi macam-macam dan menarik kesimpulan kucing tetangga yang sering berke­liran di seputar rumahku menjadi penyebar virus itu. Aku berniat membunuhnya. Sayang keberani­anku terenggut keraguan. Kucing itu milik seorang preman kam­pung. Sedang aku, pendatang ba­ru yang belum genap setahun tinggal di perumahan ini. Aku hanya menyimpan niat yang membara di dada itu.

***

Semua berawal ketika aku dan isteriku tinggal di perumahan. Walau rumah kontrakan ini kecil aku sudah amat bersyu­kur. Namanya saja peru­mahan biasa kalau tembok­nya ompong, kayu-jendela dan pintu yang dimakan ra­yap, plafon retak-retak, serta blandar dan reng bagian luar bangunan yang gapuk, itu bia­sa.

Setelah beberapa hari me­nempatinya, aku mulai terusik karena ada seekor kucing yang suka berada di plafon. Aku khawatir, berat badannya tak sanggup disangga plafon retak itu. Apalagi kucing itu sering ribut mengejar tikus.

Tak hanya menaiki plafon, kucing itu juga sering membu­ang kotorannya di halaman. Ta­nah halaman itu dicakari dengan kuku-kukunya hingga membentuk lubang. Lalu tak lama lagl lubang itu menjadi munjung berisi onggo­kan tahi kucing. Aku mulai mem­benci kucing itu.

Untuk mengenyahkan kekesalan­ku, aku sering mengusir kucing itu dengan gagang sapu. Tapi dasar ku­cing, ia tak pernah jera untuk kem­bali terutama pada saat malam tiba. Sering pula bila ia datang, aku sege­ra berlari ke kamar mandi mengam­bil seciduk air lalu dengan cepat menyiramkannya. Dan, hatiku sedi­kit girang melihat kucing itu lari ter­birit-birit. Tapi dasar kucing, setelah lewat hari, ia kembali. Aku geram dibuatnya.

Aku mulai berpikir untuk mem­bunuh kucing itu. Memojokkannya di sudut rumah lalu menggebuknya dengan kayu, menembaknya dengan senapan angin, atau meracuni­nya. Aku memilih cara terakhir ka­rena tampak lebih aman dan gam­pang. Tapi aku tetap tak tega mem­bunuhnya, lagi pula ia milik seo­rang seorang preman. Aku tak mau persoalan ini menjadi runyam. la pasti tak rela kucingnya mati.

Lalu petaka itu datang tiba-tiba. Isteriku mengaduh, dari pangkal pahanya mengalir darah kental. Aku segera menyumbatnya dengan jarik agar darahnya berhenti. Lalu segera naik taksi meluncur ke ru­mah sakit. Namun terlambat, kata dokter jaga, janin itu telah gugur. Aku lemas, isteriku menangis. Peta­ka datang tiba-tiba. Kau tahu, beta­pa sakit kehilangan harapan. Betapa perih kehilangan kasih tercinta.

Dokter memanggilku, kami ber­diskusi. Aku menjelaskan dulu iste­riku pernah keguguran. la menyu­ruh agar istriku melakukan uji lab. Kata dokter, akhir-akhir ini banyak kasus keguguran berulang disebab­kan oleh virus TORCH, khususnya toksoplasma. Virus yang disebar­kan melalui daging dan sayur yang dimasak kurang matang, makanan hampir basi, kotoran kucing, anjing, burung dan lain-lain. Dari berbagai faktor itu, pikiranku langsung mengarah pada kucing te­tangga. Aku makin benci dan berte­kad membunuhnya.

Benar juga, hasil lab positif. Den­dam menuntut. Bunuh balas bunuh.

***

Aku membeli racun tikus. Dosis kubuat lima kali lipat menyesuai­kan tubuh kucing itu yang sekitar lima kalinya tikus. Kebetulan iste­riku pas menggoreng ikan asin. Aku yakin sebentar lagi baunya akan mengundang kucing itu da­tang. Dan betul juga, bunyi me­ong terdengar mendekat. Dadaku bergolak menahan hati yang geram.

Malamnya aku menaruh ikan itu hanya kepalanya saja di keranjang sampah. Tentu racun sudah kutam­bahi lagi dengan memasukkannya ke dalam batok kepala ikan. Dari celah jendela aku mengawasinya. Tak lama kemudian, terdengar sua­ra kemrusak. Mataku memicing, tampak kucing itu mengais sampah. Dan, hatiku girang, ia menggigit ke­pala ikan itu. Dalam tempo singkat, yang digigit tertelan habis masuk ke perutnya. Aku menunggu. Ku­cing itu mengeong pelan, lalu di­am.

Aku segera mendekat. Tubuh­nya kubungkus dengan tas kre­sek, segera aku ke kali yang tak begitu jauh dan membuang­nya. Derasnya aliran air menelan bungkusan tas kresek itu. Aku pulang dengan hati senang seka­ligus bergetar, semoga majikannya tak pernah tahu peristiwa ini. Paginya, pintuku dige­dor. Aku gemetar, isteriku juga. la kusuruh tenang di kamar. Aku keluar dan mendapati preman itu keli­hatan marah. Pisau terlipat di pinggangnya. Aku gen­tar.

"Kucingku hingga kini belum pulang, kau tahu di mana kucingku?"

­Aku diam.

"Hah, kau bisu ya!"

Aku tetap diam.

"Dari semua orang di kampung ini, katanya kau yang benci sama ku­cingku. Temanku, saat mancing semalam melihatmu membuang tas kresek ke kali. Awas jika kau telah membu­nuh dan membuangnya!"

Aku coba tenang.

"Jika kau membunuhnya, aku akan balas membunuhmu!"

Kata-kata itu menyembur mukaku, menghantam dadaku. Memer­cikkan bara.

'Tapi, ia telah membunuh anak­ku," sahutku.

"Apa? Kucing membunuh manu­sia! Mana ada itu."

"Isteriku keguguran dan dari ha­sil uji lab, kata dokter disebabkan oleh virus tokso yang juga disebar­kan melalui kotoran kucing," sahut­ku lebih berani.

"Tapi, apa yang punya kucing itu aku saja?"

"Kucingmu yang sering berkeli­aran di rumahku."

"Mana buktinya kucingku meng­andung virus itu?"

Aku diam.

"Berarti benar kau telah membu­nuh kucingku. Edan kowe!"

la mengambil pisau dan menun­jukkan kilatannya ke mukaku. Ma­taku melihat tajamnya pisau yang baru saja diasah.

Para tetangga mulai berdatangan namun mereka hanya menatap. Je­las mereka hanya menonton, tak be­rani lebih. Huh, semua penakut, tunduk sama preman kampung. Tiba-tiba keberanian membuncah di dadaku. Ditatap banyak orang, ego­ku naik, nyaliku menguat.

"Kau hanya berani berkelahi de­ngan pisau sementara lawanmu ber­tangan kosong."

"Kau menantangku?"

"Kalau kau lelaki, mari kita berke­lahi tanpa senjata."

"Ayo!"

"Jangan Bang!" isteriku keluar ru­mah dan menahan langkahku.

"Biarkan suamimu ini memberi pelajaran pada preman kampung ini. Preman musuh masyarakat. Ki­ta harus berani melawannya!"

Lalu kami mendekat, membuat arena di tengah jalan. Orang-orang hanya merubung, menonton.

"Kalau kau jantan buang dulu pi­saumu!" '

la membuang pisau itu ke tepi ja­lan.

"Aku memang membunuh ku­cing sialan itu!"

Ia mendengus marah. Aku se­nang, kemarahan membuat serang­annya bakal ngawur.

La menyerang dengan cepat, gesit. Aku berkelit. Serangannya membabi­-buta. Dan dengan mudah akhirnya aku menaklukkannya. Serangkaian pukulanku menghantam mukanya dan tendanganku menjerembabkan tubuhnya. Sorot matanya yang ang­kuh, tato tubuhnya, dan cat merah rambutnya ternyata hanya sekadar sok jagoan saja.

la lunglai. Orang-orang tampak tersenyum.

"Ayo bangun!"

Kutarik kerah kaosnya dan sekali lagi tonjokanku menghantam muka­nya. Darah meleleh dari hidung dan bibirnya.

"Ampun Mas."

Aku lepaskan dia. Orang-orang mulai mendekat. Aku diam, mun­dur perlahan lalu berbalik melihat isteriku. Tapi, ia tercekat, wajahnya pucat. Aku tergeragap. Aku berba­lik, namun...

..Jcreesssh...

"Ahggkkh.:." Pisau itu menancap di perutku. Darah mengucur deras. Dunia menjadi gelap. Begitu gelap.

"Bang bangun! Hari sudah siang:"

Aku kaget, isteriku memukul-mu­kul pahaku, ternyata aku bermimpi.

Aku tercenung. Isteriku bertanya, "Ada apa, Bang?"

Aku menggeleng.

Aku bangun dengan malas. Me­nimbang-nimbang untuk pindah ru­mah atau jadi meracuni kucing itu.

Ternyata isteriku sedang meng­goreng ikan asin.

Aku segera pergi membeli racun tikus.


Solo, November 2006




Tidak ada komentar: