Sabtu, 03 Januari 2009

Inisial NR


Cerpen : Abednego Afriadi
“Maminya si pecandu tuh!”
“Mungkin maminya juga pecandu.”
“Pecandu balsem kali,”
“Kecanduan pijit kerik, ken…”
“PKK?”
Tawa bersahutan.
Jantung Bu Siti tiba-tiba berdetak kencang. Nafasnya berembus tak teratur. Mukanya merah berampur malu, mendengar celetuk salah satu tukang ojek di Pos Ojek sebrang rumahnya. Kontan dari balik jendela Bu Siti bertanya ketus.
“Siapa?”
Mendengar suara Bu Siti yang sedikit ngebas, puluhan pemuda tersebut sontak terkatup mulutnya. Tak satu pun berani melontarkan celetuk itu lagi.
“Pengecut!” bentak Bu Siti, sembari membanting daun pintu. Braaakkk..
“Biar aku laporkan polisi para pemabuk itu!”
Mereka saling tengok kemudian pergi satu persatu mengendarai sepeda motor modifikasi yang kerap dipakai untuk balapan liar. Pos Ojek itu pun mendadak sepi. Hanya beberapa botol bir, vodka yang dibelinya dari Warung Kruseknya Mak Cawet.
***
“Sudah berapa kali mama bilang pada Norma, Pa? Jangan ikut-ikutan mengecat rambut dengan warna macam-macam, seperti teman-temannya itu. Yang merah, hijau, biru, cokelat, kuning, ah…bikin mama malu !” kata Bu Siti lewat HP.
“Memang Norma mencat rambutnya dengan warna apa?”
“Putih!”
“Hah, putih? Rambutku yang putih saja pengen dicat merah!”
“Harus dengan cara apa, Mama arahkan supaya Norma tidak semakin liar begitu!”
“Lalu?”
“Sebaiknya Papa pulang! Mama sudah tidak sanggup lagi!”
“Lho, bukankah kita mau cerai?”
“Belum sah!”
“Tapi, aku harus menyiapkan segala sesuatu untuk perceraian kita! Aku ingin segera melupakan pantai, gunung, kolam renang, film porno, dan semua yang membangkitkan kenangan-kenangan itu! Aku butuh latihan bercerai!”
“Bukankah kau minta kita cerai baik-baik?”
“Iya, tapi?”
“Pokoknya Papa harus ke sini segera!”
“Jangan kau sebut Papa lagi, tapi Bekti, namaku!” bentak Pak Bekti tanpa menyadari Bu Siti telah memutuskan pembicaraan. Thulalit..thulalit..thulalit…
***
Sudah seminggu ini Bu Siti uring-uringan. Sejak pertemuan PKK seminggu lalu, Ibu Siti mulai enggan keluar rumah. Betapa ingin ia menutup mukanya dengan topeng punokawan, buto cakil, atau topeng-topeng lain yang kiranya dapat menyembunyikan mukanya dari orang-orang yang hadir dalam rapat PKK. Mata mereka dirasakannya serupa anak panah yang tanpa tedheng aling-aling menancap dan mencoreng-coreng mukanya dengan tinta permanen.
Masih diingatnya ketika Bu Sastro, wali kelas Norma tiba-tiba memberitahu bahwa Norma baru saja ditangkap polisi.
“Ibu tidak salah?”
“Tidak mungkin, saya melihatnya di televisi. Salah satu pelajar puteri berinisial NR!”
“Ah, mana mungkin? NR bisa diartikan banyak, Bu! Bisa Nurdin, Nur Royani, Nurlaila Raras, Nana Ria, Nita Riana, Rano Narno dan sebagainya! Yang jelas inisial NR, bukan berarti anak saya, bukan berarti Norma!”
“Lho, saya tahu ciri-cirinya Norma. Tidak bisa ditipu, rambutnya yang dicat putih itu?”
Bu Siti membisu, keringat dingin mengucur di pipinya yang tembem. Membasahi polesan make upnya yang tebal. Mukanya memerah menahan malu. Betapa tidak malu, sepuluh menit sebelum Bu Sastro datang, Bu Siti dengan bangga menceritakan bahwa Norma menjadi seorang artis yang sedang naik daun. Bahkan Norma juga dikatakannya sebagai anak penurut, sopan dalam berpakaian, tidak suka berfoya-foya, membolos, rajin menabung, mengerjakan PR, selalu bangun pagi, tidur dibawah jam sembilan malam.
Bu Siti mendekati Bu Sastro.
“Bu, harusnya jangan keras-keras dong!” bisiknya.
“Oh, iya, maaf.”
“Terus, bagaimana supaya keluar dari tahanan?”
“Wah, mohon maaf, itu akan kami lakukan jika dalam berita-berita di koran disebutkan bahwa Norma adalah siswi kami!”
“Aduh!”
“Bahkan saya dengar dari kepala sekolah, Norma terpaksa dikeluarkan dari sekolah!”
Bu Siti mencoba mencari kebenaran berita itu karena sudah hampir magrib Norma tidak pulang juga. Padahal selambat-lambatnya pulang latihan pramuka, tari, chearleaders, teater, paduan suara, atau beladiri pernapasan, Norma biasa pulang sebelum magrib. Ia mencoba melihat berita di televisi. Di layar kaca itu, seorang penyiar cantik dan bersuara ngebas nan serak-serak basah tengah membacakan berita.
Selamat siang pemirsa, seorang siswa salah satu SMA di Jakarta yang belakangan dinobatkan sebagai artis yang sedang naik daun ditangkap petugas satuan narkoba saat sedang menggelar pesta obat kadaluarsa. Dari keterangan teman korban, artis muda belia berinisial NR ini memang kerap kejang-kejang jika tidak menenggak obat kadaluarsa tersebut……
Belum usai berita dibacakan, Bu Siti buru-buru mematikan televisi. Namun pikirannya tiba-tiba berubah lagi. Kembali dihidupkannya televisi itu. Ditambahnya volume untuk mendengar lebih teliti.
Siswi yang diketahui bernama NR ini ditangkap berdasarkan laporan warga sekitar rumah kontrakan teman sesama artis tersangka NR. Warga mengeluh lantaran…..
Dan benar, pelajar perempuan yang menutup mukanya dengan tasnya itu tak lain adalah Norma. Sekilas kecolongan juga. Maka nampaklah putih perak rambutnya, kawat gigi, dan tahi lalat pojok kanan bawah bibirnya seperti Rano Karno.
“Benar! Benar! Benar! Itu pasti Norma! Tidak bisa dicuri! Ya Tuhan! Tuhan!!!” tukasnya dengan nada gusar.
***
“Aku malu, Pa! Malu! Malu! Harusnya Norma mengerti! Dia itu publik figure! Dia itu seorang artis! Harusnya jadi panutan! Tunjukkan karyanya! Prestasinya!”
“Aku juga malu! Ini pasti gara-gara kamu! Tidak pecus menjaga anak!” bentak Pak Bekti.
“Ini juga gara-gara kamu! Kamu tidak pernah pulang, sudah hampir setengah tahun ini!”
“Karena kita akan cerai, aku perlu latihan dulu!”
“Latihan apa?”
“Latihan cerai! Lagi pula, aku tetap mengiriminya uang!”
“Bukan hanya uang, Norma perlu kamu!”
“Ah, dia sudah besar, dia baik-baik saja bukan?”
“Bah, Kamu sendiri yang tidak pernah tahu!” jawab Bu Siti sinis. “Norma ditangkap polisi!”
“Hah, tidak mungkin! Ini semua karena salahmu! Karena salahmu. Kau tidak bisa…”
“Kau yang tidak bisa?”
“Siapa bilang? Saya masih bisa?” jawab Pak Bekti sembari menjorokkan perutnya ke depan. Ia sedikit tersinggung. “Ini semua karena kamu! Ini semua karena kamu!” teriak Pak Bekti mendorong tubuh Bu Siti hingga terpojok di tembok ruang tamu. Bu Siti pun menangis mengiba-iba.
“Apa kesalahanku? Apa???” teriaknya.
“Kamu cantik, Ma,” jawab Pak Bekti lirih sambil mengecup keningnya. Suasana hening seketika. Bu Siti pun tersipu. Perlahan mereka saling mendekat, lalu berpelukan.
“Kenapa Norma ditangkap polisi?” bisik Pak Bekti
“Dia ketahuan pesta obat-obatan kadaluwarsa!”
“Norma satu-satunya anak kita. Mari kita sayangi! Kita terlalu sibuk dengan rencana perpisahan kita, hingga tak sempat memikirkan Norma.”
“Baik, Pa! Memangnya Papa masih sayang sama Mama? Belum ada wanita lain?”
Pak Bekti tersenyum tanpa sekecap pun memberi jawaban. Bu Siti mencibut pingganya.
“Aauuu..” pekiknya.
Jam dinding berdentang sepuluh kali. Malam belum begitu larut tapi lampu dalam rumah itu sudah mati. Di balik sprey tempat mereka bertemu menghempaskan lautan rindu, lembaran uang puluhan juta tertata.
Sementara di ruang tahanan kantor kepolisian sektor, Norma tak bisa memejamkan matanya. Nyamuk-nyamuk kian beringas menghisap darahnya. Isak tangisnya menggema di antara dengkur tahanan lainnya. Seirama dengan ratap seorang pencuri kerupuk yang babak belur dihajar massa sebelum ditangkap polisi. Norma kian khawatir. Apakah nasibnya akan sama jika Papanya tidak berusaha membayar untuk mengeluarkannya dari kurungan penjara.
***
Sebulan keluar dari penjara, wajah Norma kembali terlihat di layar-layar kaca. Dalam sinetron, infotainment. Ketika diminta wawancara dia menjawab,
“Oh, course, ini semua cobaan. Dan ada hikmah yang dapat saya petik pelajarannya!“
Begitu. Hampir semua stasiun televisi menayangkannya berulang-ulang. Kembali Norma menjadi pujaan hati para penggemarnya. Kembali pula ia masuk penjara. Keluar lagi. Masuk lagi. Keluar lagi. Capek?
“Tidak, “ jawabnya. “Semua ada hikmahnya.“
Wajahnya nampak begitu tenang. Namun sorot matanya menyala. Penuh nafsu dan ambisi.
“Semua ada hikmahnya.“

Jogja-Solo, Oktober 2008
dimuat di Pawon Sastra edisi 22/ akhir 2008

Tidak ada komentar: