Selasa, 26 Agustus 2008

Isebel

Cerpen : Abednego Afriadi

22.00 WIB : Oooo…oooo…letakkan senjata!

Sudah satu jam, tangan kanan Supran menggenggam sebilah belati. Nafasnya berhembus tak teratur. Meski berbatang-batang rokok telah habis dihisapnya. Kedua kakinya masih dirasakannya gemetaran, meski beberapa detik sempat kembali berdiri tenang. Apa yang dinantikan? Hanya sebuah pertikaian. Ia ingin pertikaian itu lekas selesai dengan jawaban siapa yang kalah dan menang. Agar amarah itu tak berkecamuk merambatkan akar sakit penyakit.
***
Seorang yang ditunggu-tunggu tak juga datang. Hingga ia terpaksa duduk terpaku duduk di atas drum usang berkarat. Sambil terus berjaga-jaga. Siapa tahu, orang yang ditunggunya berjam-jam, tiba-tiba menikamnya dari belakang. Jadi terlalu singkat, tak ada saat-saat yang mendebarkan, pikirnya. Sambil menatap setiap kegelapan sudut gang buntu itu, Supran menutup kancing jaket kulit yang sempat terbuka, seperti menantang benda tajam yang suatu saat tiba-tiba menembus perutnya hingga memuncratkan darah segar.

Beberapa kelelawar nampak menyebar, usai suara tembak bergema. Supran tiba-tiba saja turun dari tong, dan menunduk. Kakinya sengaja ia posisikan kuda-kuda beladiri. Busyet! Bikin jantungan saja!, pikirnya. Nafasnya kembali memburu. Ia berjalan mengendap menuju pertigaan gang, tempat transaksi para pengedar. Tak ada langkah terdengar sekali pun, kecuali kakinya sendiri yang menginjak kerikil, sampah, atau sepasang kecoa yang sedang asyik bercumbu di tanah yang sering dikencingi para pemabuk.

“Mampus kau!” teriak Supran mengangkat tubuhnya sendiri lantas mengibas-kibaskan belati tak tentu arah, “Heit. Ciat-ciat-ciat!!!”

Malam kembali senyap usai gema suaranya terpantul.

Ah, tak ada gunanya berjaga-jaga. Sedari tadi, orang itu juga tidak datang, pikirnya. Supran lantas kembali duduk di atas drum bekas penyimpanan minyak tanah itu. Kesunyian berangsur terpecah ketika mobil-mobil mengkilap melintas di pertigaan menuju Cafe Tompel yang kira-kira masih enam puluh meter lagi di tempuh.

“Hei Supran! Apa yang kau lakukan? Suprankah itu?”

Supran mendelikkan matanya, lantas mendekati pria berbadan tambun itu seraya mengendap-endap, nyaris menghentikan suara langkahnya. Namun Supran tak sadar, kedua matanya memantulkan kilap dari sedikit cahaya, entah dari mana asalnya. Pria berbadan tambun itu masih menatap ujung gang buntu dengan raut muka keheranan,

“Supran kau kah itu? Kau dicari orang! Eh, maaf, tapi apa benar kau Supran! Maaf kalau aku salah. Terima kasih!” tukas pria tambun itu lalu berjalan menuju cafe, tak menghiraukan Supran.

Suara degup musik dari cafe sayup sayup terdengar. Terkadang terdengar serempak dengan teriak para perempuan ketika beberapa tamu bergiliran masuk. Pintu sedikit terbuka, hingga keramaian pesta terdengar semakin nyaring.

Pertengkaran itu berawal saat Isebel mendatanginya. Meminta tanggung jawab. Sejak itu Supran memang telah bersumpah, tak kan membiarkan Isebel hidup. Juga dengan orang-orang sekitarnya. Ia ingin mereka mati.

“Ternyata sudah terlambat dua bulan, Pran,”
“Apa buktinya? Bukankah kita selalu mamakai kontrasepsi?”
“Apa kau bilang? Kau kejam, Pran!”
“Kau yang lebih kejam. Kau menipuku! Kau mengaku masih single. Tak tahunya bersuami dua.”
“Aku berhak bersuami dua. Aku tidak puas jika hanya satu. Aku ingin mereka menjadi mayat setelah belatung-belatung dalam rahimku ini menggerogoti pelir mereka.”
“Menjijikkan! Hei, hei, hei aku tak akan bisa ngelantur. Kau belum jawab pertanyaanku, sedangkan kau menuduhku kejam. Ah tidak nyambung sama sekali. Tolol!” gerutunya menyentuh kasar kepala Isebel hingga hampir terjatuh.

Malam ini bukan hanya Isebel yang ia tantang, namun juga yang lain, termasuk teman-temannya. Bahkan pria berbadan tambun tadi.

“Heh…Gendut! Anjing! Kecoa! Ke sini kau?” teriak Supran dari kejauhan sambil masih menenteng sebilah belati yang siap dikibaskan ke arah leher lelaki itu.
“Ah, kau ini gimana? Bukankah tadi aku sudah menawarkan pertemuan? Tapi kau tak menjawab!”
“Sini cepat!” teriak Supran hingga menggema suaranya sedikit pas jika diiringi musik mesin di Cafe Tompel.
“Bangsat! Jangan kau panggil dengan teriakkan! Aku bisa membunuhmu!”
“Enyahlah kau dari bumi!”
“Bukan kau saja yang bisa membunuh. Aku juga bisa!” jawab pria tambun tadi dengan wajah sinis, sambil berdiri tegak menyingsingkan lengan jaket kulitnya. Jari-jarinya terdengar bergemelutuk menggenggam erat, siap meremukkan tulang-tulang muka Supran.

Mata Supran semakin melotot ingin keluar dari kelopaknya. Ia ingin menikam perut lelaki itu hingga usus dan jeroan lainnya terburai keluar.

Lelaki itu berjalan lebih cepat mendekati Supran, sedangkan Supran hanya berdiri tenang siap dengan kuda-kuda sambil menyembunyikan belatinya di kantong jaket. Yah kegelapan yang menguntungkan bagi Supran, sebab mata lelaki itu tak mungkin bisa melihat belati yang ia sembunyikan. Ia siap menusuk-nusuk tubuhnya hingga semua cairan tubuhnya terkuras dan kembali kusut.

Namun langkah lelaki itu tiba-tiba terhenti. Ia berusaha mengatur nafasnya yang mengalir deras. Berkali-kali ia mengdongakkan muka sambil menghela nafasnya. Jenggotnya nampak panjang berantakan.

“Hah…aku memang sudah tidak lama menghabisi nyawa orang sejak revolusi. Tapi aku tak ingin mengulanginya. Sebab aku ingin berubah. Dan jangan paksa aku membunuhmu. Jangan pikir aku akan meremukkan tulang-tulangmu yang dililit kulit itu!” tukusanya dengan nada geram.
“Tinggi besar tapi pengecut!”
“Terserah! Aku sudah bosan, bahkan kebal dengan hinaan semacam itu!”
“Yah, tapi kau belum kebal dengan segal macam yang dapat mencabut nyawamu!”
“Ha..ha..ha.. Izrail saja tak pernah diutus mencabut nyawaku,” jawab pria itu, lalu pergi tanpa menoleh menuju cafe. Mungkin tubuhnya sudah gatal tak kuasa menahan diri ingin berjingkrak-jingkrak seperti kesurupan dan menenggak berbotol-botol miras, seraya mengucapkan sumpah serapah, caci maki, dan ancaman-ancaman.

Supran menghela nafasnya. Ia semakin ingin menikam punggung lelaki itu dari belakang. Ah pengecut benar jika kulakukan, pikirnya.

Membosankan, harusnya aku cari Isebel. Aku ingin paksa ia melahirkan sekarang. Bayi dua bulan itu harusnya enyah dari dunia ini, pikirnya lagi sambil meremas rambutnya yang ikal panjang berantakan. Aku ingn tahu, siapa ayah bayi itu? Apakah benar-benar dariku. Aku masih curiga, jangan-jangan dari suami lainnya. Dan aku hanya dijadikan lemparan tanggung jawab. Sumpah aku bisa bertanggung jawab mengurus bayi itu jika Isebel dan kedua suaminya tewas terlindas kereta api atau aku tikam satu persatu leher mereka.

“Isebeeellllllllllllll!!!!!!!!” teriak Supran. Namun mesin mobil mengkilap yang melintas lebih keras menderu. “Sumpah, aku akan membunuhmu. Aku akan menikammu sekarang juga! Jangan mengiba! Jangan berlagak kasihan di mataku. Aku tahu! Aku tahu! Semua itu jebakan! Semua itu tipu muslihat!”

Setan alas! Kurang keras juga suaraku, katanya dalam hati. Mukanya mendongak ke atas. Ia menatap tangga besi yang masih kokoh berdiri di sebuah rumah bertingkat tanpa penghuni. Mungkin masih ada atap, pikirnya lagi. Lantas ia mendaki tangga itu. Sampai di atap, ia menepuk-nepuk, menghilangkan karat tangga yang menempel di kedua tangannya.

“Isebellllllllllll!!!!!!!!!!!” teriak Supran ke berbagai penjuru mata angin. Seorang perempuan penghuni apartemen, nampak membuka jendela dan mencari teriakan Supran. Namun kembali menutupnya.
“Isebelllll!!!!!!!”

Lampu-lampu gedung masih menyala. Bahkan sebagian perkantoran belum tutup. Mata Supran memandang sekeliling kota itu. Sesaat ia tertegun melihat mercusuar yang berputar-putar menyiramkan cahaya. Pandangan matanya tanpa sengaja berhenti di sebuah gedung olahraga. Dadanya berdesir. Ia semakin teringat pertemuan teakhirnya dengan Isebel di gedung itu. Ia tak kuasa membendung air matanya. Supran semakin sadar, tak mungkin pertengkaran itu berlanjut.

Petikan gitar seorang pemabuk di Garden Music Cafe sayup-sayup terdengar menyaingi deru musik di Cafe Tompel yang berhenti saat rasia polisi digelar. Oh, iya, bukankah Isebel telah mati? Aku lupa. Aku saksikan ia menari dalam dunia mimpi. Isebel memang mati dan tak pernah ada di dunia ini. Yang ada hanyalah aku sendiri dan foto-foto telanjang tertempel di kamarku.

23:45 WIB: Tubuh Supran lunglai. Betapa dendam itu masih bergemuruh, meski malam ini mulai berangsur reda. Mimpi itu terlalu kejam memang. Suara serak basah para pemabuk masih terngiang, diiringi petikan melodi gitar elektrik yang meliuk-liuk. Irama blues terasa seirama dengan hembusan angin, serta barisan lampu-lampu kota dan pulau seberang. Mereka melantunkan syair,

Oo..oooo..oooo…letakkan senjatamu!
heheheeeenntiiikkaaan…o hentikan perang…..
mari kita…. mari kita…. mari kita….
bermaen mussseekkkk…

Supran menuruni tangga, dan keluar dari gang buntu. Ia lempar sebilah belati di tembok usang yang berisi coretan-coretan. Dari belakang, sepasang tangan kekar dengan cepat memegang erat kedua tangannya, lantas mengikatnya dengan borgol.

Sayup-sayup nyanyian baru para pemabuk berganti. Suaranya terdengar jelas, namun kadang lirih, mengikuti hembusan angin malam.

When a man love a woman...
***

dimuat di www.ceritanet.com Edisi Merah Putih 162

Minggu, 24 Agustus 2008

Surat Kaleng

Cerpen : Abednego Afriadi
“Kosong lagi,” keluh Bapak membuka sepucuk surat kosong tanpa nama pengirim. Sudah tujuh hari ini kami mendapat kiriman serupa. Beramplop putih polos, tanpa segurat pun tertulis nama pengirim. Setiap pagi tiba-tiba sudah terselip di bawah pintu, menyisakan aroma sewangi melati. “Pasti ada seseorang yang mengantarnya karena tukang pos baru datang setidaknya sekitar jam sembilan. Apalagi tidak ada bekas stempel cap pos atau paket kiriman tertentu,” kata Bapak.
Ternyata bukan hanya kami yang setiap pagi menerima surat itu. Semua rumah di RT 5 RW 9 Perumahan Surga Permai menerimanya setiap pagi.
“Kalau memang benar melompat pagar, berarti sudah keterlaluan!” geram salah satu warga saat rapat di rumah Pak RT.
“Apa perlu sewa satu satpam lagi untuk jaga malam sampai pagi?” usul yang lain.
“Iuran bulanan untuk satpam pagi saja sebagian nunggak setengah tahun, bahkan setahun. Lalu siapa yang akan nombok?” sanggah Pak RT.
“Apa mungkin Pak Sugiarto terus-terusan menutup kekurangan gaji satpam?”
Karena itu semua sepakat diadakan jadwal ronda sampai subuh, meskipun dengan resiko tak kuat menahan kantuk di tempat kerja. Semua harus berkorban hanya untuk mengetahui siapa pengirim surat kaleng itu, sekaligus menghindari prasangka buruk terhadap kampung sebelah yang dianggap sebagai kampungya pemabuk, pengamen, pencuri, perampok, kecu, dan setengah lokalisasi. Di kampung itu tinggal nama-nama yang mentereng di lembaran berita-berita kriminal kota. Mereka adalah Atmo Gelek, Priyo Tuwek, Bambang Subogel, Bah Gentong, Kastoyo Klewang, Wiyoto Pacul, Glempo, Glendoh dan Suradji Bacok. Itu belum yang kebal senapan dan hukuman.
Sudah dua hari ronda semalam suntuk berjalan, namun sepucuk surat tiba-tiba sudah terselip di bawah pintu begitu kami pulang.
“Jangan-jangan ini teror dari mereka?” kata Bapak ”Sejak pindah di perumahan ini, gelagat mereka mengisyaratkan yang tidak baik!” tukas Bapak beralan menuju arah kampung sebelah. Ibu melarangnya dengan alasan di kampung sebelah ada kembang kampung yang terkenal dengan goyangan syurnya jika berada di atas panggung dangdut, namanya Surejeb. Bapak membatalkan niatnya, tapi diam-diam ke kampung itu saat Ibu tertidur.
Paginya Ibu marah-marah. “Ternyata kamu nekat juga, Pak!” katanya sembari membanting daun pintu, lalu menguncinya agar Bapak tidak bisa masuk rumah. “Sudah, pulang saja ke rumah Surejeb!”
“Tidak!” bentak bapak sembari menggedor pintu. “Semalam aku ketemu seseorang yang ini sering mendatangi rumah-rumah. Tak peduli, miskin, janda, duda, tua, muda, jejaka, atau perawan!”
Mendengar Bapak membentak, Ibu sedikit ketakutan.
“Benar dugaanku Kiai Suluk yang mengirimkan surat-surat itu!” jawab Bapak lalu ke kamar dengan nafas tersengal-sengal.
Ibu dan aku setengah tidak percaya dengan pengakuan Bapak. Bisa jadi, itu alasan kuat agar kami percaya bahwa Bapak ke kampung sebelah tidak untuk menyaksikan goyangan dangdut Surejeb. Nama yang asing bagi kami. Kiai Suluk? Itu pasti hanya karangan Bapak. Aku sedikit curiga, jangan-jangan surat-surat kosong itu, Bapak sendiri yang memasang untuk mengelabuhi Ibu. Hanya demi menonton goyangan seronok saja harus mengorbankan orang sekampung?
Sisa letih ronda semalam suntuk masih terasa meski siangnya kuhabiskan waktu terlelap di kamar. Malam ini kurebahkan lagi tubuhku, hingga seorang bersorban putih menghampiriku kian dekat. Semakin jelas keriput wajahnya. Semakin silau rambut, jenggot dan cambangnya yang putih memerak. Mungkin benar kata Bapak, malam ini giliran aku yang di hampiri Kiai Suluk. Diserahkannya selembar kertas usang padaku dengan isyarat wajahnya supaya aku membacanya. Tapi kulihat tidak ada secoret pun tulisan darinya.
“Maaf Kiai, saya tidak menemukan tulisan Kiai!”
“Jangan malas berpikir!” gertaknya lalu pergi menghilang ditelan beragam mimpi yang berkecamuk dalam tidurku yang lelap.
Aku terbangun tepat pukul dua belas malam. Tubuh serasa letih dan enggan digerakkan. Pelipis seperti diikat karet. Aku minum setengah gelas teh hangat di meja ruang tamu. Sepi begitu menyeruap. Tak nampak seorang pun di rumah ini, bahkan di gardu pos ronda. Purnama begitu jelas tersenyum dari balik dedaunan pohon mahoni. Langit di atas kampung sebelah memerah. Gumpalan asap tercium begitu menyesakkan. “Kebakaraaaannn…toloongggg….,” teriakan bersahut-sahutan dengan bunyi kentongan itu memaksaku berlari menuju kampung sebelah.
Ditengah hiruk pikuk para pengungsi aku coba mencari Kiai Suluk. Siapa tahu berada di antara para pengungsi, pemadam kebakaran, atau rumah-rumah yang hangus terbakar? Aku ingin bertemu dengannya, sebagaimana mimpiku semalam. Pertanda apalagi yang akan disampaikan padaku?
Solo, 1 Agustus 2008

dimuat di Solopos, 24 Agustus 2008

Sabtu, 26 Juli 2008

Sabtu, 12 Juli 2008

Mata Penambang Pasir

Mata penambang pasir

Oleh : Abednego Afriadi

Pulau di tengah sungai itu rimbun. Lautan daun nampak merapat melambai-lambai ditiup angin. Kira-kira seluas 30 hektar, pulau itu berjarak sekitar 30 meter dari bantaran sungai, tempat kami tinggal sepuluh tahun lalu. Lautan jingga di atap langit menyemburat bagai lukisan hidup yang menaungi tanah tempat kaki berpijak. Adzan Magrib melintas sayup-sayup bersahutan.

Aku menunggu suara Sukro yang kata orang-orang sekitar masih sering tertawa bermain tembak-tembakan. Aku hanya terjerembab dalam kengungunan saat para penambang pasir liar dari desa seberang sungai satu-persatu meninggalkan bantaran pada bulan ini mulai kering. Padas-padas berukirkan rumah binatang air memandang dingin sampah-sampah yang mengalir serta hitam pekatnya warna air sungai.

Seorang penambang pasir lantas menghampiriku setelah mengikat tali rakit di tepi sungai. Dia memandangku dengan ekspresi sinis. Tubuhnya gemuk, kulitnya berwarna hitam seperti bekas sengatan terik siang bolong. Mata kanannya lebih kecil dari mata kirinya. “Ada apa?” ia bertanya, “Apakah tidak ada kerjaan selain berdiri di tepi sungai?”

“Apakah di pulau itu sekarang masih dipakai anak-anak bermain?”

“Jangan tanyakan itu lagi! Pulau itu sudah digusur. Jangan membuka luka lama kami!” serunya, “Suara anak kecil bermain itu karena trauma, jadi kata orang-orang yang pernah tinggal di bantaran ini terbayang-bayang terus bocah yang dulu pernah tewas di pulau itu.”

“Bagaimana dengan bangunan sarang wallet itu Pak?”

Orang itu malah mendorongku, hingga tubuhku terjongkok. Mukanya memerah, keringatnya bercucuran membasahi muka dan kaos putih kumal yang dikenakannya. “Sekali lagi jangan kau paksakan aku mengingat kematian bocah itu, atau tentang pulau yang dipenuhi setan itu! Biar saja digusur! Aku mantan Lurah, dulu memang aku yang meminta digusur! Banyak orang maksiat di pulau itu! Menyusul pembunuhan, judi dan bunuh diri!”

“Lalu bagaimana dengan orang-orang yang digusur?”

“Sebagian masih di sini, sebagian tewas dilindas bencana karena nekad dirikan rumah di pulau itu,” jawab mantan Lurah itu, sembari mendorong dadaku hingga aku terjatuh terkapar di semak-semak,”Sudah, jangan tanya macam-macam, atau aku remukkan kepalamu dengan cangkul ini!”

“Tidak, maksudku aku hanya ingin mencari temanku Sukro! Apakah dia ikut tertimbun di dalam tanah?” ucapku sembari kembali bangkit.

“Sukro?Kau pikir dia masih hidup?” jawab orang itu,”Sukro sudah mati jauh hari sebelum penduduk pulau itu rata oleh tanah! Dia dibunuh karena berebutan sarang walet di bangunan itu!”

Orang itu bergegas meninggalkanku dan berjalan melewati tanggul ke arah timur. “Tidak mungkin, seminggu lalu aku bertemu dengannya di sebuah proyek bangunan, kamu pembohong!” Orang itu lantas berlari ke arahku dengan nafas tersengal,”Kau pasti bertemu hantunya!”

Aku hanya bisa menggelengkan kepala, tidak mungkin Sukro mati, tidak mungkin. Lantas orang itu berlari seperti enggan lagi bicara denganku dan hilang ditelan kegelapan. Kini aku hanya menatap pulau itu. Pulau yang menurut orang-orang sudah digusur, padahal aku masih melihatnya dengan jelas, pulau itu masih rimbun dipenuhi latuan dedaunan. Di pulau itulah aku dan kakak sulungku selalu melewatkan hari. Kami sering bermain perang-perangan, lantas memetik buah semangka yang menjalar subur. Buah semangka yang segar dan tidak mungkin cukup kami beli dengan recehan sisa uang saku sekolah.

Namun begitu kakakku kelar dari sekolah dasar, aku sudah tidak lagi punya teman bermain perang-perangan, karena kakak-kakakku yang lain lebih asyik bermain pasar-pasaran di tegalan sungai. Seusai lulus SD kakakku sekolah di Yogjakarta menemani paman dan bibiku yang kebetulan tidak punya anak. Meski begitu pulau itu tetap menjadi istanaku. Aku mengajak Sukro, tetangga sekampung yang sebaya dengan kakakku. Sejak saat itulah aku mulai akrab dengan Sukro.

“Kita bermain ACI saja!” seru Sukro, “Kamu jadi pejuang atau Belanda?”

“Aku pejuang, aku punya bambu runcing,” ujarku dengan menenteng sebatang kayu pohon randu yang kuruncingkan dari rumah dengan pisau dapur ibu.

“Baik, aku yang jadi Belanda. Aku tembak kau dengan peluru tank,” begitulah Sukro berteriak sembari menaikki pohon asam yang tumbang karena semalam hujan deras disertai angin kencang. Sukro membidikkan bomnya dengan tangkai-tangkai pohon asam. Tak jarang ia lemparkan geranat tanah liat dengan suara,”ciiiuuuuu glerrrr.”

Kami saling mengincar, bahkan merunduk menghindari peluru yang terlempar. Aku merambat dengan tubuh tertutup tangkai dan dedaunan layaknya gerilyawan perang. Kami saling mengejar, menindih, menendang, dan menggelitik. Tubuh kami berguling-guling, lantas tertawa riang hingga suaranya menembus awan-awan putih yang tersebar memecah di langit biru yang nampak cerah.

Matahari semakin merambat ke arah barat, dan menampakkan jingganya. Sayup-sayup suara memanggil nama Sukro terdengar dari bantaran sungai. Dengan tubuh belepotan lumpur, kami menyeberangi sungai melalui gethek penambang pasir yang kebetulan kami dapat menjalankannya dengan menarik seutas tali yang diikatkan antara pohon bantaran sungai dengan pulau itu. Di bantaran sungai, Ibu Sukro nampak bertolak pinggang. Mukanya memerah dan siap mencubit paha Sukro hingga gosong.

Seperti biasa, Sukro memang selalu dimarahi ibunya jika ketahuan nekad bermain di pulau itu. Orang-orang kampung mengatakan, pulau itu angker dan dihuni hantu bercaping bernama Cing Mau Lau. Orang kampung juga percaya bahwa di pulau itu pernah dijadikan tempat pembantaian massal masa pemberontakan di negeri ini. Maka tak heran jika pulau itu setiap tahunnya diperingati orang-orang kampung dengan memasang sejumlah sesaji di tengah pulau itu. Tepatnya di atas prasasti itu berukirkan tahun masa pemberontakan yang belum ada satupun sejarah berani menulisnya. Sejak saat itulah, tak ada satupun orang tua yang mengijinkan anak-anaknya bermain di pulau itu. Hanya aku, kakakku dan Sukro yang nekad bermain jika ternyata tidak diketahui orangtua.

Suatu malam Sukro datang kerumahku dengan kaki telanjang mengetuk pintu rumahku. Ia bercerita, bahwa dirinya dihajar ibunya karena menghilangkan sendal jepit pemberian ibunya sewaktu Lebaran hingga tidak diperbolehkan tidur di rumah.

“Kamu tidur di sini saja! Kamu sudah makan belum?”

Sukro menggeleleng. Kebetulan malam itu di meja makan rumahku masih ada sayur oseng-oseng, nasi dengan sedikit sambal dan sepotong tahu bacam. Sukro makan dengan lahap, dan perlahan isak tangisnya terhenti. Bahkan tanpa sungkan-sungkan ia menambah sayur dan nasi, karena memang sudah terbiasa makan di rumahku. Ayah dan ibu juga tahu, Sukro adalah orang tak mampu, dan kebetulan dengan adanya Sukro, aku tidak kesepian lagi sejak kakak sulungku sekolah di Yogja. Mereka lebih suka jika aku bermain dengan Sukro daripada bermain dengan teman-teman sebayaku di kampung. kata Ibuku aku nanti ketularan nakal kalau aku nekad bermain dengan orang-orang kampung. Sebab anak-anak yang sebaya denganku rata-rata suka ngutil makanan di warung, padahal mereka anak-anak orang mampu dengan penghasilan yang serba cukup bahkan lebih. Sedangkan Sukro hanyalah anak seorang buruh pengisi tempayan atau bak mandi serta tukang cuci serabutan. Ayahnya pergi tanpa pamit sejak dia masih berumur dua tahun. Maka tak heran jika orang-orang kampung menjauhinya. Selain karena miskin, pembawaan Sukro selalu membuat sial orang-orang kampung. Pakaiannya yang lusuh dan tak pernah ganti, membuat hidung orang-orang tergelitik, ingin mengusirnya.

Sejak tamat SD, Sukro tak lagi melanjutkan sekolah, Ibunya tidak kuat membeayainya, belum dengan dua orang adik perempuannya yang masih kecil-kecil.

Meski demikian, Sukro juga turut membantu Ibunya dengan kerja serabutan. Terkadang menjadi kuli bangunan, bahkan menjadi tukang cat serabutan di rumah tetangga yang memang selalu hobi merubah rumah, meski dengan beaya mahal.

Kampung itu kian tahun dipadati rumah-rumah. Para pendatang dari kota memenuhi tanah-tanah di sekitar tanggul yang sebenarnya milik pemerintah. Papan bertuliskan dilarang membangun hanya menjadi hiasan pelengkap padatnya rumah tanah berkapling itu. Ada beragam tipe rumah, dari yang berlantai dua hingga gubuk reyot. Sepeda motor dengan berbagai merk Jepang nampak berseliweran.

Kampung itu juga sering didatangi orang-orang berpakaian perlente, dan perempuan-perempuan bergincu tebal, molek dan montok. Mereka mondar-mandir berpelukan tanpa menghiraukan orang yang ada di sekelilingnya. Bahkan sebagian ada pula yang berpelukan di bawah pohon-pohon rindang yang setiap malamnya gelap karena memang belum ada penerangan. Para pemabuk bertebaran di setiap perempatan gang. Suara desahan dan erangan terkadang sayup-sayup terdengar jika malam mulai lengang.

Karena itulah ayah memutuskan pindah rumah. Dan sejak saat itu aku tidak lagu bertemu dengan Sukro. Tak lagi melihat wajahnya yang bulat hitam dan berhidung pesek.

Terakhir sebelum pindah rumah, aku pernah melihat Sukro membayar tagihan hutang tukang kredit sembari mengajak makan ibu dan kedua adiknya di sebuah warung makan. Depalan tahun berlalu aku melihatnya terbaring lemah di ranjang kayu beralaskan tikar. Tubuhnya nampak kurus. Hampir setiap menit, ia terbatuk-batuk mengeluarkan darah lantas meludahkannya di sebuah cangkir logam.

“Kamu tidak periksa ke dokter?”

Ia menggeleng sembari menggesekkan jari telunjuk dengan ibu jarinya. Dahinya berkernyit.

“Kamu sakit apa sih? Kalau kamu tidak lekas periksa ke dokter, nanti akan bertambah parah! Biar aku yang beayai.!”

Dia masih menggeleng. Dengan suara serak dan berat, ia menjawab,

”Kamu jangan beritahu siap-siapa ya! Seminggu yang lalu aku mencari sarang walet di pulau itu. Aku bertemu dengan tiga orang berpakaian batik turun dari mobil, yang kebetulan sedang mencari sarang walet pula di rumah tua peninggalan Belanda itu. waktu itu aku dapat lebih banyak karena aku datang lebih awal. Jam empat pagi aku sudah ke sana. Kami sempat bertengkar. Lantas mereka mengeroyokku dan menjatuhkan sebongkah batu di dadaku.”

“Kamu tak lapor polisi.”

“Kalau lapor polisi, pasti nanti aku njuga kena karena kita sama-sama mencuri, sarang wallet itu milik seorang pengusaha.”

“Kau tahu nomor polisinya, biar aku carikan tukang pukul!”

“Biar aku balas dengan caraku sendiri,” bisiknya sembari menghela nafas panjang dan berat.

***

Sejak saat itu, aku belum bertemu lagi dengan Sukro. Kali ini aku berniat datang ke rumah Sukro, karena aku ingin menawarkan pekerjaan di pabrik teman ayahku. Aku pikir pekerjaan itu lebih layak dan halal dari pada mencuri sarang walet milik orang lain.

Malam segera datang. Kampung yang sekarang rata dengan semak belukar itu semakin singup. Binatang malam mulai mengambil suara sebelum berpadu dalam sebuah nyanyian. Sedangkan pohon-pohon pulau di tengah sungai itu masih terlihat rindang. Semak belukar menjulang hingga setinggi dua meter. Mungkin saat ini aku harus meninggalkan bantaran sungai ini. Namun sebelumnya, aku lihat dari balik pohon pisang, dua orang anak tertawa riang sembari membawa tangkai pohon asam yang baru saja tumbang. Dua orang anak itu yang satunya kurus yang satunya gemuk. Lalu aku dengar sayup-sayup seorang ibu memanggil nama Sukro.

Langit makin hitam, angin mendesir dingin. Agaknya hujan akan segera turun. Mungkin aku harus bergegas meninggalkan tempat ini sebelum hujan mengguyur deras. Lagi pula aku tidak membawa manthel hujan. Sedangkan tawa cekikian dua orang anak tadi masih terdengar sayup-sayup di telingaku, yang satunya aku hafal betul, itu suara Sukro…suara Sukro..

Keesokan harinya aku baca di lembar surat kabar, Sukro mati tertembak polisi dalam sebuah aksi perampokan. Dalam berita itu tertulis, Sukro adalah buronan kelas wahid.

Solo, Desember 2005

Catatan : - ACI (Aku Cinta Indonseia) : judul Film di TVRI yang bercerita tentang perjuangan para pahlawan melawan penjajah, sekitar tahun 80-an Film itu jadi film favorit anak-anak.

Singup : Sepi mencekam/ terkesan angker

Dimuat di Koran Sindo, 14 Juli 2006

Minggu, 06 Juli 2008

Kamis, 03 Juli 2008

Biodata Abednego Afriadi

Abednego Afriadi adalah lelaki berwajah sinis, namun hati romantis. Bahkan sosok ini adalah sosok yang selalu malu-malu kucing jika ditraktir makan-makan. Pernah aktif di Teater Salib SMA Kanisius Petang Surakarta (sekarang IG Slamet Riyadi), Teater Lentera Alam, Teater TERA Yunior, Teater TErAS Univet Bantara Sukoharjo. Cerpen2 nya pernah dimuat di Solopos, Koran Sindo, Majalah GONG, Pawon Sastra, Pendar, Antologi Joglo 2, Ceritanet, dan Kolomkita.com. Kini Penulis tinggal bersama isteri, anak, ortu, dan nenek di Mojosongo-Jebres-Solo. Bekerja sebagai presenter, dubber, reporter, camera person, & additional editor di TATV Solo.